HUJAN (refleksi ketika menunggu hujan reda untuk pulang)


Sebuah fenomena alam yang terus berlangsung di planet terindah yang mampu dihuni oleh berbagai macam makhluk hidup. Proses sirkulasi dimana air berputar terus-menerus melalui sebuah siklus. Air dari permukaan bumi menguap ke atas kemudian mengalami pengumpulan uap air di langit yang kemudian karena suhu yang semakin dingin maka uap tersebut mengalami pengembunan dan menjadi butir-butir air yang kembali lagi kepermukaan bumi. Setidaknya seperti itulah proses hujan terus berlalu sebagaimana dijelaskan oleh para ilmuwan.

Dalam siklus tersebut ada unsur utama yang sangat penting yaitu “AIR”. Air yang menjadi salah satu pendukung kelangsungan makhluk hidup. Tumbuhan, hewan, dan tentu saja manusia yang dijadikan khilafah dimuka bumi ini, termasuk juga jasad renik yang bersifat mikroskopik. Tak jarang kita mendengar berita kekeringan yang menyebabkan banyak kerusakan dan kematian. Kejadian yang terjadi karena air yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berawal dari tumbuhan yang mengalami kematian, disusul hewan liar serta binatang ternak, kemudian manusia yang sering bertahan hidup lebih lama karena kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya setelah karunia Allah Ta’ala tentunya.

Namun tak di pungkiri pula kadang curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan bencana pula. Kadang banjir menimpa, kadang pula hujan disertai angin kencang yang merusak.

Di negara kita Indonesia yang berada di daerah tropis terlebih berada di dekat samudra maka curah hujan yang terjadi cukup tinggi. Bahkan dalam beberapa kasus bisa menjadi ekstrim karena pengaruh-pengaruh lain seperti badai Lanina yang terkenal. Memang kadang merugikan, namun hujan sebenarnya manfaatnya yang bisa kita ambil lebih banyak. Hal itu sudah tak dipungkiri lagi. Terkadang juga hujan mengganggu aktivitas manusia yang pada saat sekarang ini semakin meningkat. Sering terdengar selentingan keluhan bahkan menjurus pada makian terhadap hujan -semoga kita tidak ikut menjadi seperti itu.

Lantas bagaimana kita seharusnya bersikap??

Berikut ini barangkali bisa jadi bahan renungan kita……

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat dibutuhkan oleh seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28). Yang dimaksudkan dengan rahmat di sini adalah hujan sebagaimana dikatakan oleh Maqotil (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/322, Mawqi’ At Tafasir)

Hujan adalah air yang diturunkan dari langit dan penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf: 9). Yang dimaksud keberkahan di sini adalah banyaknya kebaikan.[1]

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat membutuhkannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiya’: 30). Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.”[2]

Tu, kan…

Hujan pun ternyata tercantum dalam Al-Quran sebagai sesuatu yang baik.

Ketika hujan kita juga disyariatkan untuk berdo’a. ’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.[3]

Sebaiknya kita senantiasa bersyukur dikaruniai banyak hujan. Banyak banget manfaatnya. Dalam surat ibrahim ayat 7 juga kita telah diingatkan “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.

Nah lho.. masih mengeluh lagi ketika hujan??

kayaknya sekarang mesti berfikir lagi…..

—————

[1] Tafsir Al Baghowi (Ma’alimut Tanzil), Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, 7/357, Dar Thoyibah, cetakan keempat, 1417 H
[2] Tafsir Al Baghowi, 5/316

[3] Tafsir Al Baghowi, 5/316

Disarikan dari berbagai sumber

buletin.muslim.or.id, hisnul muslim, dan refleksi penulis ketika menunggu hujan reda di lantai 3 direktorat kampus tempat kerja


  1. Ant dix

    Settuju..bagus ahk

    Like

    • maturnuwun

      Like

      • devi

        Aamiiin… smoga kita mjd hamba yg slalu mensyukuri nikmatnya ..<QS Ibrahim Ayat 7

        Like

      • right, thanks

        Like

  2. devi

    Aamiin smoga kita smua slalu mudah utk mengucap syukur padaNya di setiap waktu/kejadian…

    Like

    • amin ya rabb

      Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: