PERJALANAN TELAH SAMPAI DI BATAS


Oleh : Hilmy Hamid Mahri

Ia pun pergi dan tak kan pernah kembali. Menyusuri waktu yang tersisa, menuju ke perut bumi, gelap, tak tertatap setiap kasat mata yang memandang. Lantas tertutup tanah, semua pergi tinggalkan dia sendiri. Menunggu utusan Ilahi datang dan bertanya tentang makna apa yang tersirat saat engkau di pucuk asa. Menyusuri waktu di alam Buana, seakan tak terhingga waktu yang ada. Serasa menggali tanpa batas, menumpuk gundukan yang entah apa? Lantas kau tinggalkan begitu saja.

Wahai apa gerangan setelahnya…?

Kiranya Engkau tinggal berdua bersama yang Maha Tahu. Tak mampu lagi berdusta, terucap semua yang pernah ada. Terkunci rapat mulut; tak lagi berkata-kata. Saat tangan harus menjawab, kaki mesti berucap, mata dan telinga bertutur tentang apa yang pernah terjadi kemarin di kehidupanmu.

Perjalanan telah sampai di batas, jangan pernah berkata, ‘Aku harus bagaimana…?” Karena Robb semesta telah tunjukkan jalan yang nyata, agar kelak engkau tak tersesat di hari Baan disana! Tapi rupanya terlewat sudah, meski hari ini seluruh firmanNya terucap. Namun, engkau terlanjur diam tak berkata sepatah, terlelap dalam buaian ajal.

Beribu karangan bunga krisan dan kebaya hitam pekat, memandang nanar tangisan wanita, menjelma keharuan sesaat. Tapi hilang musnah di telan peristiwa sejarah panjang yang pernah kau torehkan di muka bumi ini. Sesungguhnya teramat singkat, tetapi engkau terlupa harus kemana sebenarnya kita rnelangkah..?

Serasa pendek saat berkuasa. Namun, begitu panjang saat didera lara. Kalaulah boleh bertanya, tentang apa yang harus kau kata? Pastilah terjawab, ‘Aku sudah Ielah.’ Tapi tolehlah di sekelilingmu. Mereka tampak tak rela saat kau tinggalkan menuju maya pada, karena terlalu lezat sajian yang pernah terhidangkan, hingga mereka lupa pesta pasti berakhir.

Sesaat datang hidup ini pada saatnya, semua akan musnah bagai debu terhempas bayu. Hilang tak berbekas. Bila lah kau cari pastilah tak kan pernah kau temukan. Karena alamnya telah berpindah. Waktu berlalu dimakan zaman terpisah oleh jarak tak terbatasi oleh alam maya.

Perjalanan telah sampai di batas… Pelajaran indah bagi yang tahu dan menjaga yang  lima sebelum datang yang lima;

Muda sebelum Tua
Kaya sebelum Miskin
Lapang sehelum Sempit
Sehat sebelum Sakit
Dan Hiduprnu sebelum Matimu

Biarlah semua menjadi petuah bagi kita, karena dunia tetaplah tipu daya. Jangan hiarukan waktu berlalu mesra dalam canda; dalam buaian mimpi indah yang tak pernah ada. Seandainya engkau melihat apa yang terlihat oleh Nabimu, pastilah hanyak menangis dan sedikit tertawa.

Tak banyak cerita yang mesti terubah dalam syair dan nyanyian yang melalaikan, yang ada hanya firman Allah dan Sabda Nabi. Karenanya jangan kau biarkan barang sedetikpun, waktu terlewat saat engkau tak bergantung pada siapa-siapa kecuali pada Robb pencipta kita semua. Pemberi rak hidup insan dunia.

Perjalanan telah sampai di batas… berakhir sudah segala cita rasa, yang ada hanya jasad beku terbujur kaku tanpa daya dan tergolek lemah. Dulunya perkasa seakan kehidupan segala-galanya. Begitu banyak yang ingin diraih dari dunia tetapi terlalu sedikit yang diberi. Kewajiban-kewajiban Tuhannya terabaikan. Perintah menyembah malah disekutukan. Mengesakan malah menduakan.

Setelah sampai pada batasnya, sebagian mereka menyebutnya pahlawan. Dan yang lainnya menyebut penghianat. Tapi aku tetap apatis dengannya. Atas nama yang kuasa Dzat pencipta diriku. Aku tidak ingin apa-apa selain dari khusnul khotimah.

Laa illaha Iliallah Muhammadur Rasulullah

Karena kelak pasti aku juga berjalan sampai ke batas dan tak membawa apa selain amalan saja. Meski kelak kuburku tak berhias pualam. Hanya bongkahan batu biasa. Lantas hilang tak perlu kau kenang. Karena Roh telah sampai di Lazuardi. Biarkan jasad menjadi tanah kembali ke asal. Itulah hakekat insan biasa. Karena semua itu sama, yang berbeda hanya taqwa.

Penjalanan usailah sudah, karena hidup meski berakhir… tinggallah menunggu kita akan ke mana…?
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran: 185)*

Batu, 2 Februari 2008
Hilmy Hamid Mahri
Lembaga Da’wah dan Amal Sosial

Al-maaa’uun – Kota Batu

Sumber Bundel 6 Qiblati




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: