YA ROBB BIMBINGLAH HAMBA MENUJU KESEMPURNAAN IMAN


 

OLEH : HILMY HAMID BIN MAHRI

(LEMBAGA DAKWAH DAN AMAL SOSIAL AL-MAA’UUN KOTA BATU)

Hidup selalu berubah, bergantung ketentuan Allah. Demikian juga iman, kadang naik kadang turun. Tetapi aku selalu berdo’a semoga kelak Allah memanggilku dalam keadaan keimanan yang paling sempurna.

Barangkali itulah sepenggal kalimat yang selalu terangan dalam benakku, semenjak usia semakin bertambah, seiring berjalannya waktu.

Kiranya tiada pilihan yang paling indah dalam hidup ini selain daripada menuju kesempurnaan Iman.

Sebuah pilihan yang jauh dari kata mudah. Jalan berliku, terkadang membuat aku nyaris bosan dan putus asa. Tapi mau apalagi yang harus kita cari dalam hidup ini selain daripada surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seminggu tiga sampai empat kali aku hadir di kajian (taklim) bersama teman-teman. Diantara mereka akulah yang paling tua, maklum usiaku sudah kepala enam, sedangkan yang lain kebanyakan masih remaja. Meski demikian aku tak pernah malu ataupun minder untuk menuntut ilmu Agama (atau dienul Islam) ini.

Sedari kecil sampai setua ini, setelah pensiun di Militer, belum sekalipun aku mengenal dienul Islam ini.

Demikian sekilas cerita yang pernah beliau ceritakan kepadaku oleh seorang pensiunan militer berpangkat terakhir Mayor, bagian kesehatan (CMK). Beliau melanjutkan ceritanya:

Dulu ketika aku masih bertugas di Tim-Tim (Timor Leste sekarang) aku merasa geli dan bodoh kalau mengingat peristiwa yang pernah aku lakukan. Dulu kalau aku melihat sebagian temanku sedang melakukan sholat aku merasa aneh. Apa mau mereka dengan gerakan-gerakan yang lucu (jengkulat-jengkulit) itu –menurutku saat itu-

Bahkan yang lebih ekstrim lagi, kalau kami dapat pembagian sarung, mereka menggunakannya untuk sholat, maka aku tertawa, karena sarung itu kupakai sebagai selimut tidur. Kalau mengingat semua itu aku merasa merinding sendiri.

Tapi kini telah kutemukan maksud hidup, hakekat hidup, tujuan hidup dan sekaligus kebenaran saat aku bertemu seseorang yang tiada bosan-bosannya mendatangiku dan mengajak ke masjid untuk sholat berjamaah. Sekaligus mendengarkan ceramah agama atau kajian. Awalnya aku tidak menggubris, tapi lama kelamaan hatiku luluh juga dan terbuka. Alhamdulillah.

Hari ke hari kujalani kehidupan yang terlihat lain dari kebiasaanku sebelumnya. Kini aku mulai belajar sedikit demi sedikit. Mulai dengan bagaimana wudlu yang benar dan sholat yang benar sesuai yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Maklumlah, hidayah datang saat usiaku sudah setua ini. Tapi aku tak pernah kecewa. Andai hidayah itu tidak datang sama sekali bagaimana kelak aku dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertanggungjawabkan kehidupanku di akhirat kelak?!

Anak-anak dan istriku tampak gembira dengan semua ini terutama istriku yang tulus, selalu mengingatkan aku tentang pentingnya mempersiapkan diri di haribaan nanti.
Suatu malam aku duduk di ruang tamu, ruang tamuku lumayan besar, maklum sampai hari ini aku masih menempati rumah dinas yang kebetulan rumah Loji (tinggalan Belanda).

Yang memang agak sedikit sunyi, maklum walau di pinggir jalan raya, tapi kalau malam serasa sepi. Jarak antara tetangga agak berjauhan dibatasi oleh halaman yang luas dan pohon-pohon yang rindang.

Duduk sendiri di sepinya malam aku membaca Tafsir Terjemahan Al-Qur’an. Kufahami artinya satu persatu, sebab aku masih belum fasih membaca huruf Arabnya.

Ayat demi ayat kubuka mulai surat Al Baqarah. Kalau ada arti dan ayat itu yang menarik di hati kutulis di buku dan kuhafal, lantas kurenungkan.

Oh iya, kebetulan aku juga diangkat jadi ketua Pepabri (Persatuan Purnawirawan ABRI) di kotaku. Ya kadang-kadang aku juga menyampaikan sesuatu yang kupahami dan apa yang aku dapatkan dari taklim dan bacaan kepada teman-temanku.

Kini lima tahun sudah aku belajar dienul Islam di Majlis Taklim dan membaca banyak buku sedikitnya ada bekal ilmu yang kudapat. Sholatku semakin terjaga dan aku berusaha menjaga diriku dalam segala hal agar kelak keimananku semakin sempurna.

Tapi lama-kelamaan kurasakan ada sesuatu yang janggal dari kesehatanku. Setiap malam aku didera batuk yang luar biasa sampai dadaku ini terasa sakit entah mulai kapan aku sudah lupa, tetapi semakin hari kurasakan semakin menjadi-jadi. Kadang ingin rasanya aku ke dokter, tapi selalu saja tertunda. Sampai pada suatu hari ada teman ngaji merasa iba denganku, sebab seringkali di kala kami bersama-sama mengaji aku sering minta ijin keluar dan menahan batukku.

Akhirnya kucoba untuk periksa ke dokter dan dokter menyarankan agar aku foto rontgen ke rumah sakit. Ternyata perneriksaan tidak cukup hanya hari itu saja. Seminggu kemudian aku mendatangi rumah sakit untuk menanyakan hasilnya, ternyata, Subhanallah Ia hawla wala quwwata lila billah, dokter mengatakan di paru-paruku ada semacam benjolan yang ternyata kanker paru-paru stadium empat.

Dunia serasa gelap, entahlah aku tidak berkata apa-apa pada dokter. Aku terdiam, banyak beristighfar. Sesampai di rumah kukumpulkan anak istriku, kuceritakan apa yang terjadi pada diriku. Meledaklah isak tangis, tetapi Subhhanallahu, aku measa menang karena aku yakin apa yang terjadi pada diniku semuanya atas izin Allah seperti yang tertulis dalam Surat Al Hadid ayat 22-23: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Aku berpesan pada mereka, kelak apabila Allah memanggilku maka kuburkanlah aku sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menguburkan jenazah. Penghormatan ini -penguburan menurut sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- lebih aku sukai daripada penghormatan apapun di dunia ini.

 

Demikian kisah sahabat saya yang diceritakan kepada saya. Tiga bulan kemudian beliau meninggal dunia. Tidak ada ratapan tangis, ataupun tembakan salvo, yang ada hanya sebagaimana pesan beliau. Semoga Allah mengampuni dan merahmatinya, Aamiin.

 

*** sumber Qiblati Ed 12/III

 




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: