Putriku bertanya tentang Cinta


Konsultasi syariah ini saya ambil dari web qiblati (link ada di bawah)
Berikut tanya jawabnya.

Syekh, aku memiliki seorang anak gadis berusia 14 tahun. Anakku tersebut pernah bertanya, “Apa yang harus aku lakukan jika aku jatuh cinta dengan teman sekolahku?” Jawaban apa yang selayaknya aku berikan kepadanya sehingga mengerti batasan-batasan agama berkenaan dengan hal ini?.

“Saudariku, kami minta kepada Allah agar melindungi anak-anak kita. Dan memperbaiki amal dan niat kita serta membimbing langkah-langkah kita dan melindungi kita dari kejahatan nafsu-nafsu kita. Tidak disangsikan lagi bahwasanya anak-anak itu mudah terpengaruh dengan anak-anak sekelilingnya terutama teman-temannya.

Dilingkungan sekolah terkumpul anak-anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang tidak memperhatikan nilai dan adab, juga anak-anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang memiliki perhatian besar untuk mengenai masalah pendidikan anaknya. Oleh karena itu menjadi kewajiban seorang ibu yang baik untuk menyadari perannya dengan berusaha sekuat tenaga menghilangkan dampak-dampak negatif yang disebabkan oleh ikhtilath (bercampur baur laki-laki dan perempuan) dalam sekolahan.

Seorang ibu yang baik berkewajiban untuk mengganti kata-kata jelek dan kotor yang didapatkan anak di sekolah dengan kata-kata yang baik. Bahkan termasuk hal yang penting sekali adalah memotivasi anak untuk memilih sahabat yang baik. Orang tua memiliki kewajiban untuk mengetahui teman-teman anak dan bekerja sama dengan anak-anaknya dalam masalah memilih teman yang baik.
Selain itu yang mengajari anak-anak kita untuk mengucapkan kalimat-kalimat jelek adalah media massa yang seringkali menyebarkan budaya jelek dan buka-bukaan. Orang tua berkewajiban untuk menyadari dan memperhatikan hal ini. Boleh jadi sebab terluncurnya kata-kata jelek dari mulut anak kecil adalah ketidakpedulian orang tuanya yang menampakkan kecemburuan di hadapan anak. Ini merupakan kesalahan besar.
Demikian juga sebagian kerabat ada yang berkata kepada seorang anak kecil, “Kamu pacarnya, ya ?” kalimat-kalimat ini lalu melekat kuat dalam benak anak-anak.

Pada saat anak bertanya seputar masalah ini maka orang tua tidak boleh menghindar untuk memberikan jawaban akan tetapi hendaknya bersikap yang tepat dengan memilih kalimat dan uangkapan yang cocok. Sah-sah saja jika orang tua beralasan dengan mengatakan, “Hal seperti ini akan kau ketahui kalau sudah besar nanti”, untuk beberapa pertanyaan yang sangat menyulitkan untuk memberikan jawabannya.
Sebaiknya Anda katakan padanya bahwa seorang anak wanita muslimah itu mencintai Allah dan kedua orang tuanya, juga mencintai teman-teman sesama wanita yang shalihah. Sedangkan untuk anak laki-laki maka hanya bersahabat dan memiliki rasa simpatik dengan sesama anak laki-laki sesudah mencintai Allah, Rasul dan kedua orangtuanya. Ungkapkanlah ucapan terimakasih kepadanya karena pertanyaan yang sudah ia kemukakan. Karena seorang anak wanita yang baik itu akan mengadukan segala urusannya yang penting kepada ibunya dan mengungkapkan perasaan kepada ibunya. Kami berharap agar anak tersebut bisa merasakan kasih sayang dan kehangatan dari Anda sebagai ibunya.

Seorang anak tidak akan mencari tempat untuk curhat kecuali sesudah tidak adanya kehangatan dan kasih sayang di rumahnya, disebabkan sibuknya ayah dan ibu dengan urusannya masing-masing sehingga tidak memberikan perhatian kepadanya.

Tidak diragukan lagi bahwasanya anak gadis ini sedang melewati fase yang sangat penting dalam hidupnya. Oleh karena itu adab dan nilai Islam harus ditanamkan kuat-kuat dalam dirinya. Anak tersebut sudah sangat perlu untuk mengetahui bahwa Islam adalah sebuah agama yang memisahkan sejauh-jauhnya nafas laki-laki dan nafas perempuan. Islam menginginkan agar seseorang wanita memiliki jati diri dengan mengenakan jilbab yang syar’i serta berantusias tinggi untuk mengkaji berbagai hukum dan adab dalam agama yang mulia ini. Di antara adab dalam Islam yang paling penting bagi seorang wanita adalah menjauhi interaksi dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Perlu Anda sadari bahwa pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu mendengarkan dengan seksama lontaran-lontaran pertanyaan yang disampaikan oleh anak didiknya, kemudian memberikan jawaban yang tepat sesuai dengan ruh Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran.

Solusi untuk semisal pertanyaan di atas bukanlah dengan bentakan dan paksaan atau ancaman dengan hukuman sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian ibu. Namun kita bisa mengetahui petunjuk Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam berkaitan dengan hal tersebut dalam sebuah hadits berikut.

Ada seorang pemuda menemui Rasulullah e lalu mengatakan, “Wahai Rasulullah izinkan aku untuk berzina.” Mendengar hal tersebut para shahabat kontan menghardik anak muda tadi. Sikap Rasulullah alallahu ‘alaihi wassalam sendiri adalah meminta anak muda tersebut untuk mendekat. Nabi jadikan permintaan di atas sebagai kesempatan emas untuk menanamkan kecemburuan (terhadap hal-hal yang dilarang) dan ‘iffah (menjaga kehormatan).

Nabi bersabda kepada anak muda tersebut, “Apakah engkau merelakan zina terhadap ibumu?”. “Tidak wahai Rasulullah alallahu ‘alaihi wassalam, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”. Ujar anak muda tadi. Demikianlah jawabannya terhadap pertanyaan Nabi di atas, dan demikian pula semua orang, tidak ada seorangpun yang rela ibunya melakukan perzinahan.

Nabi lalu melanjutkan dialog untuk menanamkan rasa cemburu karena larangan Allah yang diterjang oleh anak muda tadi. Nabi mengatakan kepadanya “Apa engkau merelakan zina terhadap anak perempuanmu, saudara perempuanmu, atau bibimu?” Rasa cemburulah yang mendorong seorang untuk menjaga kehormatan dan kesuciannya. Tidak akan pernah ada seorang yang memiliki rasa cemburu lalu berbuat zina. Perlu kita semua menyadari bahwa kehormatan kita akan terlindungi dengan melindungi kehormatan orang lain, tentu sesudah mendapatkan taufik dari Allah.

Doakanlah anak-anak Anda dengan penuh kesungguhan sebagaimana Rasulullah alallahu ‘alaihi wassalam mendoakan anak muda tadi. Nabi meletakkan tangannya pada dada anak muda tersebut lalu berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”. Sejak saat itu anak muda tadi tidak pernah berfikir untuk berzina sama sekali.
Seorang ibu yang baik adalah seorang ibu yang bisa berperan sebagai sahabat untuk anak-anaknya, jika anak-anaknya sudah menginjak usia remaja. Demikian juga seorang ibu yang baik memiliki perhatian yang besar dengan perasaan dan problematika anaknya serta melatih anak-anaknya untuk mengungkapkan semua masalah secara terus terang dan apa adanya. Oleh karena itu orang yang paling dekat dengan seorang anak gadis adalah ibunya sendiri.
Ketauhilah bahwasanya rasa cinta seorang laki-laki dan wanita harus dimulai dalam koridor syar’i. Adapun mempermudah permasalahan hubungan emosional antara laki-laki dan wanita sebagaimana yang dilakukan banyak anak muda jaman sekarang, banyak mengandung bahaya besar disamping menyelisihi berbagai hukum Islam. Allah berfirman yang artinya, “Maka hendaknya orang-orang yang menyelisihi Nabi itu merasa khawatir tertimpa bencana atau tertimpa siksaan yang pedih.” (QS. an-Nur)
Kami berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keturunan kita dan agar Allah jadikan sifat keshalehan sebagai warisan untuk anak cucu kita sampai hari pembalasan.”

sumber http://qiblati.com/putriku-bertanya-tentang-cinta.html




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: