SUSU UNTA LEBIH ISTIMEWA


Unta, bukan binatang yang asing bagi kita. Meski mungkin ada yang belum pernah melihatnya secara langsung, namun paling tidak nama binatang ini telah kita kenal. Bukan tentang untanya yang hendak kita bicarakan pada tulisan ini, namun tentang susu unta.

Susu unta konon memiliki banyak khasiat, misalnya saja ia bisa digunakan sebagai anti infeksi, anti kanker dan anti diabetes. Namun benarkah semua klaim ini? Tentu saja ini butuh pembuktian dan penelitian tersendiri. Tidak heran, para ilmuwan berusaha menguak dan membuktikan klaim-klaim tersebut.

Penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa ada beberapa potensi obat terkandung dalam susu unta. Misalnya protein yang terkandung dalam susu unta yaitu laktoferin (bahkan kadarnya sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan susu sapi memeiliki sifat sebagai antivirus dan anti bakteri. Meski fungsi laktoferin secara keseluruhan belum diketahui, namun ia diketahui berfungsi meningkatkan imunitas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Susu unta yang difermentasi juga telah terbukti efektif melawan pathogen bacillus, staphylococcus, salmonella, dan escherchia. Susu unta sangat kaya dengan vitamin C. Kandungan vitamin C dalam susu unta umumnya dua kali lipat dibandingkan yang ada dalam susu sapi. Kandungan vitamin C nya berkisar antara 5,7 – 9,8 mg. Kolostrum unta kaya akan IgG (immunoglobulin G) dan serum albumin. Susu unta mengandung asam amino seperti alanin, arginin, aspargin, glycin, glutamine, histidin, isoleucine, lysine, methionin, phenylalanine, prolin, serin, dan lain-lain. Susu unta juga diketahui kaya mineral chloride.

Penelitian tentangnya

Dari kandungan yang ada didalamnya bisa diketahui bahwa susu unta sangat bergizi bagi tubuh manusia. Di sebagian Rusia, Kazakhstan, dan India, susu unta diresepkan untuk pasien Rumah Sakit sebagai pemulihan dari penyakit tuberkolusis dan diabetes. Suatu penelitian pernah dilakukan pada 20 orang terinfeksi Tuberculosis di Libya. Orang-orang tersebut dibagi menjadi dua kelompok penelitian. Pasien dalam kelompok “A” diberi susu segar pasteurisasi unta sedangkan kelompok “B” diberikan susu sapi. Pasien dalam kelompok “A” menunjukkan penurunan jumlah mycobacterium tuberculosis pada akhir minggu pertama masuk, sedangkan kelompok “B” menurun jumlah mycobacteriumnya pada minggu kedua. Percobaan pernah dilakukan juga di India, pasien penderita tuberculosis diberikan suplemen susu unta. Hasilnya pasien-pasien tersebut tidak mengalami batuk berdahak, sesak napas atau nyeri dada. Pada penelitian lain didapatkan bahwa nafsu makan pasien meningkat.

Sumber : majalah elfata edisi 10 vol 10 tahun 2010




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: