YANG NGAJI, YANG BERPRESTASI


Oleh : ArZA (Arifin & Zainab)

“Nilaimu kok turun terus setelah ngaji?!”, ungkap seorang ibu pada anaknya yang baru semangat dalam majelis ta’lim.

Adakah sobat Fata yang demikian? Semoga tidak. Seringkali dimata umum prestasi menjadi tolok ukur utama yang langsung terlihat terutama buat remaja yang masih duduk di bangku sekolah, meski prestasi bukanlah melulu punya anak sekolah atau anak kuliahan. Penilaian itu tidaklah salah, karena memang di zaman serba materi ini, kebanyakan orang akan menilai berdasar sesuatu yang nampak dari diri seseorang. Seorang remaja akan dinilai sukses bila memiliki nilai akademik yang tinggi, pekerjaan yang mapan, jabatan organisasi ini dan itu, atau prestasi dibidang lain. Sebaliknya jika nilai akademik turun alias sudah masuk area mengkhawatirkan bahkan ‘nilai jeblog’ bisa dibilang remaja ini nggak berhasil dan dikatai anak pemalas. Wah kalo sudah sampe kata terakhir nih, ngeri kayaknya kalo tersemat pada diri seorang remaja muslim.

Prestasi down bukanlah sesuatu yang asing, karena hampir disetiap tempat, sekolah, kampus atau ladang pekerjaan pasti ada aja orang yang ginian. Masalahnya, prestasi down terkadang menimpa pada beberapa remaja yang sudah kenal agama alias anak ngaji dan baru klihatan ketika mulai intens dengan ngajinya. Sehingga dianggap prestasi turun karena kebanyakan ngaji. Wah apa ngajinya diajari malas ya?! Layakkah ‘ngaji’ jadi kambing hitamnya? Apakah dengan ngaji trus prestasi harus diturunkan? Tentunya Islam yang sempurna ini tidak mengajarkan demikian.

Berprestasi, why?

Allah Ta’ala telah menjadikan dua jalan yang saling berlawanan pada kehidupan sesorang, ada tauhid ada syirik, ada hidayah ada kesesatan, ada jalan kebaikan dan ada jalan keburukan serta prestasi dan kegagalan. Allah Ta’ala berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (سورة البلد: (10

Artinya: “Dan Kami telah menunujukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al Balad: 10)

Namun,  Allah Ta’ala tetapkan kebaikan pada salah satu jalan tersebut. Sehingga jalan tauhid itulah yang harus kita tempuh dan berprestasi adalah pilihan yang harus kita ambil. Maka kita lihat, orang yang mengambil jalan yang berseberangan pasti akan berakhir dengan kerugian dan kehancuran. Apa ada yang ingin berakhir mengenaskan?! So pasti nggak ada khan?! Pasti setiap kita menginginkan happy ending.

Menjadi remaja yang berprestasi dalam segala peran dan aktivitas kehidupannya bukanlah sekedar alternatif pilihan, tapi itu adalah keharusan yang harus selalu melekat terutama bagi seorang muslim. Satu sisi prestasi yang kurang diperhatikan adalah celah untuk menghancurkan kemungkinan prestasi yang lain. Bagaimana tidak? Sebagaimana kasus di atas, khususnya bagai anak ngaji, prestasi down akan menjadi salah satu sebab yang tidak disadari menghambat keistiqomahan ngajinya. Mungkin kali pertama, ortu cuman nyampekan prestasinya yang turun, kali kedua mulai mbawa-mbawa ngaji. Apalagi makin lama menunjukkan ciri khas anak ngaji yang kadang sudah mbuat pandangan ortu turun. Sehingga di kali lain ortu mungkin nggak segan-segan mengatakan ndak boleh ngaji lagi dengan dalih mengganggu sekolah. Dalam kondisi semacam ini mungkin sang anak berpandangan, “aku harus sabar, memang seperti inilah ujian yang harus diterima setiap orang yang istiqomah dalam agama, sebaimana para nabi”. Dia menganggap itu adalah semata-mata kesalahan ortunya yang belum tahu agama. Akhirnya yang harus ia terima adalah nggak bisa ngaji lagi, buku dan pakaian ngajinya ‘diamankan’, lebih-lebih tanpa disadari dia sedang membangun tembok penutup hidayah ortunya. Padahal bisa kita balik, dengan dia tetap berusaha menjaga prestasi bahkan meningkatkannya, dia bisa berbakti sama ortu sekaligus mengambil hati untuk mendukung ngajinya, bahkan bisa menjadi sarana hidayah bukan hanya bagi sang ortu bahkan bagi teman, guru, dosen dan orang-orang disekitarnya. SubhanAllah, banyak kebaikan yang akan hilang kan gara-gara prestasi down?!

Dengan ngaji kita berprestasi

Allah berfirman Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (Al Maidah: 3)

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Ketika seorang muslim benar-benar mengamalkan agama Islam  secara menyeluruh sesuai yang dituntunkan Allah dan RosulNya, niscaya akan tercipta kebaikan dalam setiap sisi kehidupan ini.

Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuhmu yang nyata.”(Al Baqarah: 208).

Remaja yang konsisten mempelajari Islam alias rajin ngaji tentunya akan semakin memahami bagaimana kesempurnaan Islam dalam mengatur sisi-sisi kehidupan umatnya. Islam tidak menyukai perbuatan yang sia-sia dalam setiap aktivitas kita. Islam mengharamkan kedzoliman baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Seorang remaja muslim yang mapan ilmu agamanya tentu akan semakin bersungguh-sungguh mengamalkan nilai-nilai Islam dalam beraktivitas, amanah terhadap tugas yang diembannya baik dari orang tua, pimpinan, maupun teman. Dengan ngaji, kita semakin menyadari bahwa waktu teramat berharga untuk dilalui begitu saja tanpa makna karena setiap waktu yang kita lalui kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kata pepatah; “waktu itu ibarat pedang, jika kita tidak mempergunakannya dengan baik maka waktu yang akan membinasakan kita”.

Allah berfirman “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah para ulama”. (QS. Faathir: 28).

Semakin kita ngaji, semakin besar kekhawatiran kita akan amal-amal dan amanah yang kita emban, apakah kita sudah benar-benar maksimal mengerjakan yang terbaik sehingga bernilai tinggi di dunia maupun akhirat? Atau malah menyia-nyiakannya sehingga menjadi pemberat catatan buruk amal kita.

Nabi ShollAllahu ‘alihi wasallam juga bersabda:

إِنَّ الله كَتَبَ الْإحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْء (رواه مسلم)

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang terbaik dalam setiap kondisi dan perbuatan (yang tidak melanggar agama). Apapun peran dan kedudukan kita dalam kehidupan ini, baik sebagai seorang hamba, penuntut ilmu, seorang remaja, pelajar, pegawai, maka memaksimalkan diri mengerjakan yang terbaik dan penuh tanggung jawab adalah sesutu yang kudu melekat pada diri kita sebagai wujud perbuatan ihsan yang dituntunkan syariat.

So.. semakin kita getol ngaji, semakin kuat pemahaman kita terhadap Islam yang haq, semakin kita menjadi insan yang berprestasi dunia akhirat dalam setiap bidang yang kita garap.

Kiat-kiat Meraih Prestasi

Yang pertama, niat dan tujuan kudu lurus. Tanyakan pada diri kita, buat apa kita ingin berprestasi? Meskipun sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah adalah niatan yang tak terkalahkan. Karena dia tetap akan mendapatkan sesuatu meski harapannya tak teraih. Selain itu, dengan niat yang lurus hati kita akan tentram dalam menjalani setiap aktivitas. Lain halnya bagi yang cuman niat buat jadi nomor satu atau ngalahin temennya, saat gagal dia ndak akan dapat apa-apa, bahkan niatan itu meski tercapai dia akan mendapatkan katidakridloan Sang Pencipta. Kasihan deh!!

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.”

(HR Bukhori dan Muslim)

Ingatlah, tujuan hakiki kehidupan kita sekarang ini adalah untuk bekal kehidupan akhirat. Kenapa kudu akhirat? Perhatikan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, maka dia akan mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, maka dia akan mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kecuali yang telah ditakdirkan untuknya saja.” (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Maka, peran apapun yang kita jalani jadikan tujuan dan niat kita yang utama karena untuk meraih ridho Allah, untuk menegakkan kemuliaan agama Allah dimuka bumi. Bukan perkara yang memalingkan atau melalaikan dari jalanNya.

Jika niat dan tujuan sudah lurus, maka dalam meraihnya pun kita juga kudu selalu memperhatikan rambu-rambu yang dipasang oleh Allah dan RosulNya, enggan hati ini sedikit saja berkhianat dari aturanNya hanya demi meraih tujuan itu. Karena sesungguhnya setiap penghianatan itu hanya akan menghempaskan kita semakin jauh dari ridho dan surga Allah yang menjadi cita-cita kita yang utama.

Yang kedua, bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman; Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. (QS. Aththolaq: 2) Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Aththolaq: 4)

Takwa yang terealisasi dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya merupakan pintu kecintaan Allah terhadap hamba. Maka tiada lagi harapan hamba yang dicintaiNya, melainkan akan diberikanNya.

Yang ketiga, memohon pertolongan hanya kepada Allah. Tiada keinginan kecuali Allahlah yang mengabulkannya. Maka hendaklah kita memohon hanya kepada Allah untuk senantiasa menolong kita dalam tiap aktivitas. Meskipun doa adalah suatu yang ringan, tapi kenyataannya jarang diantara kita yang slalu meminta pertolongan dia tiap waktu dan keadaan, padahal pengaruh doa sangatlah besar. Seringkali kita merasa mampu melakukan beragam aktivitas sendirian sehingga mengabaikan doa dan hanya berdoa ketika dalam kondisi terjepit. So, sobat muda iringkanlah doa disetiap aktivitas kita, apalagi untuk mendapatkan sesuatu yang maksimal alias berprestasi.

Yang keempat, minta doa dan keridloan ortu. Nah, yang ini nih wajib juga bagi kita terutama yang masih punya ortu. Mintalah doa dan ridlo orang tua dalam tiap aktivitas kita, karena dengannyalah Allah juga akan memberikan keridloan dan pertolongan. Keridloaan dan doa orang tua bisa menjadi kunci tiap kesuksesan kita setelah Allah.

Yang kelima, disiplin dan cerdas memenej waktu. Kedua cara ini cukup efektif berperan dalam prestasi yang dicapai seseorang. Hampir tidak ada orang yang pernah mengalami kesuksesan dan  prestasi kecuali melewati tahap ini. Seberapa besar kita memberikan penghargaan terhadap waktu, sebesar itu pulalah penghargaan dan prestasi yang akan kita peroleh. Inilah yang masih banyak kurang dalam hidup kita. Kita kurang menghargai waktu dan kesempatan, sebagaimana Nabi bersabda:

”Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)

Kita sudah terlalu biasa dengan jam karet. Kita sudah terlalu biasa dengan waktu yang kurang manfaat. Padahal kita adalah waktu yang kita punyai sekarang, karena kita tidak tahu akankah kita masih bertemu dengan waktu yang akan datang. So, sobat mudaku, kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?! Siapkan buku agenda, rancang aktivitas harianmu. Yang pasti tiap aktivitas kudu punya nilai maksimal dan benilai di hadapan Allah.

Yang keenam, bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas. Setiap prestasi butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang menghendaki prestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang berkeinginan jadi seorang yang faqih dalam agama juga butuh usaha keras. Maka, jika kita meghendaki seluruh aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi bersabda:

Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allâh

Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR Muslim)

Yang ketujuh, cari lingkungan dan teman yang mendukung. Meski kita sudah punya tekad kuat dan kesungguhan serta beragam modal untuk meraih prestasi lainnya, tapi suatu saat kita akan mengalami masa-masa down alias futur. Maka, disinilah kita butuh lingkungan dan teman-teman yang turut manjaga keistiqomahan semangat kita dan mereka tidaklah bisa turut menjaganya melainkan harus sejalan. Lingkungan dan teman yang bertolak belakang bahkan akan menjadi bantu sandungan dan penghalang langkah kita.  Perhatikan bagaimana Rosululloh mengibaratkan antara teman yang baik dan teman yang buruk: “Teman yang baik ibarat penjual minyak wangi, jika kita dekat dengannya kita akan dapat wanginya atau minimal dapat ikut mencium harumnya. Adapun teman yang buruk bagai pande besi, terlalu dekat dengannya kita bisa terkena bara apinya atau minimal mencium bau tidak enaknya” Mestinya kita milih deket-deket dengan penjual minyak wangi doong biar ketularan wanginya, yaitu teman-teman sholih yang berprestasi yang selalu menuntun pada kebaikan.

Yang kedelapan, ajak teman yang lain. Zakatnya ilmu adalah dengan mengajarkannya pada orang lain, so.. berikan hak ilmu itu dengan berbagi dan memberi manfaat bagi sekitar kita. Tularkan kebaikan dan prestasi kita pada orang lain, niscaya hal itu akan lebih menjaga prestasi kita. Dengan ini kita terpacu untuk selalu mengembangkan kemampuan yang kita miliki dan menjaganya dengan sering mengajarkannya. Semakin banyak orang disekitar yang kita ajak, semakin banyak teman tuk saling mendukung diatas kebaikan, tambah semangat kan?

Yang kesembilan, hindari dan hilangkan penghalang. Penghalang prestasi tentunya sangat banyak. Masing-masing diri kita akan mudah menyampaikan alasan jika kita ditanya mengapa tidak berprestasi. Tapi sebagai remaja muslim yang bertanggung jawab tentu pantang menyerah dengan benturan-benturan penghalang tersebut. Kita harus semaksimal mungkin memohon pertolongan Allah dan berusaha menghilangkannya. Jangan sekali-kali kita malah mendekati sesuatu yang kita tahu itu akan menghalangi kita. Wasi’ pernah berpesan kepada Imam Syafi’ie; “ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat”. Jadi, diantara penghalang tersebut adalah kemaksiatan. Hati semakin kelam dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan akhirnya terhalang dari ilmu. Jika ilmu saja tidak bisa masuk, bagaimana kita akan berprestasi,  padahal awal dari prestasi adalah sebuah ilmu, “barangsiapa menghendaki dunia maka dengan ilmu dan barangsiapa yang menghendaki akhirat juga dengan ilmu.”

Yang kesepuluh, menelaah pelajaran dari orang yang sukses dan gagal. Pengalaman adalah guru terbaik, kata pepatah. Dari pengalaman kita dapat belajar banyak hal tentang berbagai cara untuk sukses berprestasi maupun menghindari kegagalan. Ambil contoh dalam bidang dakwah, bagaimana Rosululloh dengan keteguhan dan kesabaran yang diiringi hikmah dalam berdakwah, memulai dakwah di Mekah dalam keadaan terusir dibenci namun beliau berhasil kembali lagi ke Mekah dengan kemenangan yang besar tanpa pertumpahan darah. Pelajaran semacam ini bisa kita gali dari orang-orang yang berprestasi sesuai bidang yang kita ambil. Bagaimanakah pula pelajaran dari orang-orang yang megalami kegagalan, darinya kita bisa mawas diri, berhati-hati dari langkah-langkah yang akan menggelincirkan kita. Insaya Allah apapun bidang yang kita ambil, di sana bisa kita jumpai orang-orang yang telah mendahuli dengan prestasinya.

Semua kiat ini tidak akan terwujud keculai kita harus jujur terhadap diri kita dan segera memulainya dari sekarang. Jadikanlah sisa hidupmu lebih bernilai! Selamat berprestasi!

Prestasi tidak akan diraih dengan berleha-leha.

Diselesaikan di Salatiga, 22 Januari 2011, Menjelang tengah malem

By: ArZa (Arifin n Zainab)

Sumber : http://roihan.wordpress.com/2011/02/27/yang-ngaji-yang-berprestasi/   dan majalah elfata




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: