Waspadai Iming-Iming Uang Instan


Sudah jamak pada kebanyakan masyarakat kita, budaya meraih keinginan dengan gampang –bahkan dengan cara tak masuk akal- begitu subur, tumbuh dan berkembang. Apa yang dimaui, inginnya segera kesampaian, tak peduli meski harus menggadaikan iman dan kehormatan diri. Siapapun yang jadi korban, dan betapa susahnya mereka, tak jadi soal. Zaman sekarang, begitu mudah untuk jadi penipu, sebagaimana begitu gampang pula orang untuk tertipu.

Berbagai cara digunakan untuk mendapatkan uang secara instan, tanpa kerja keras. Di antaranya dengan hal-hal berikut ini:

1. SMS berhadiah
Kemajuan teknologi yang begitu cepat dan cenderung melompat-lompat, membuat banyak orang yang gagap, kaget dan tak siap. Hasilnya, tak sedikit yang menyikapi kehadiran teknologi tersebut secara salah. Misal, dengan justru menganggapnya sebagai kemudahan untuk berbuat kejahatan. Meski modusnya sangat kuno dan sudah sering terjadi, tapi masih saja ada yang jadi korban. Bermula dari SMS berisi pemberitahuan bahwa yang bersangkutan memenangkan sebuah undian atau kuis, yang ujung-ujungnya sang calon korban diminta mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu. Begitu uang berpindah tangan, pelaku langsung menghilang, hadiah yang dijanjikan pun tak kunjung datang.

2. Kuis di televisi
Menjamurnya acara kuis dan talkshow di televisi yang berhadiah hingga milyaran rupiah, membuat siapapun mudah ngiler dan tergoda.
Meski relatif lebih aman dari unsur penipuan, namun ada efek yang jauh lebih buruk dari sekadar kehilangan uang karena SMS tipuan. Bahaya tersebut adalah hilangnya rasa malu dan kepedulian terhadap kehormatan diri.
Sekadar contoh, pernah ada wanita berjilbab, dalam sebuah acara kuis di televisi, yang begitu ‘rakus’ memburu setiap rupiah hadiah yang ditawarkan. Jika berhasil menang, langsung bersorak kegirangan, berjingkrak, menari, dan menyanyi. Dan jika kalah, mimik wajahnya menunjukkan kekecewaan tak terkirakan. Pemandangan tersebut, sungguh lebih mirip –maaf- orang tak waras di jalanan, daripada seorang muslimah yang seharusnya santun dan sopan.
Lagipula, kita pun layak mempertanyakan, dari mana hadiah uang milyaran itu berasal? Bukankah tidak mustahil jika diambilkan dari bunga Bank?

3. Undian dalam sabun
Mirip dengan SMS tipuan, tapi dalam beberapa kasus, modusnya terlihat lebih rapi dan sangat menjebak. Bagaimana tidak, pelaku sampai sempat-sempatnya merekayasa tulisan/kupon berisi info menang dan janji hadiah, kemudian dimasukkan di dalam kemasan sebuah produk. Dengan begitu, mustahil sang korban akan curiga, karena produk yang dia beli beserta ‘kupon’ di dalamnya, kelihatannya asli dan resmi. Sebagaimana kita tahu, memasukkan kupon tersebut ke dalam produk resmi, bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Aparat keamanan pernah beberapa kali menangkap sindikat penipu dengan modus seperti ini.

4. Uang dalam sabun
Yang juga marak, adalah iming-iming hadiah uang kontan dalam sebuah produk, misalnya sabun mandi. Produsen menjanjikan, bagi yang beruntung akan menemukan uang dengan nilai tertentu, dalam sabun yang mereka jual. Yang jadi masalah, untuk jadi orang “yang beruntung” tersebut, nyatanya tak semudah yang dibayangkan. Misal ada yang benar-benar dapat, nyatanya tetap saja sangat jarang kita dengar dan saksikan sendiri. Sangat tak sebanding dengan iklan yang mereka gembar-gemborkan. Bagaimanapun, tetap sang produsen yang paling beruntung, karena dengan iming-iming hadiah tadi, produknya jadi laku keras. Di sisi lain, masyarakat konsumen makin dia bodohi, karena hanya dididik untuk konsumtif dan mata duitan, tanpa peduli dan kritis terhadap apa yang mereka beli dan konsumsi.

5. Penggandaan uang
Meski sudah tak terhitung yang jadi korban, namun kasusnya selalu saja terulang. Tiap hari, selalu saja ada korban baru, dan pelaku baru. Orang begitu mudah tergiur janji para penipu, yang mengaku bisa “menyulap” uangnya jadi berlipat ganda, dalam waktu singkat. Ketamakan pada harta benda, membuat banyak yang kehilangan akal sehatnya. Coba pikir, kalau orang bisa menggandakan uang, sudah pasti para pelakunya akan jadi orang paling kaya, dengan menggandakan sendiri uang yang mereka punya. Mereka tak perlu susah-susah promosi dan bekerja sama dengan orang yang punya uang betulan.
Di antara yang lain, ini yang paling menakutkan, karena sering melibatkan ‘makhluk’ yang sangat dibenci Allah, yaitu dukun dan setan, kawan akrabnya. Di dunia sudah berisiko kehilangan harta, kehormatan dan bahkan jiwa, di akhirat terancam siksa, karena terjerumus dalam kemusyrikan. Ingat, mendatangi dukun dan mempercayai perkataannya, termasuk syirik, dan diancam 40 hari shalatnya tidak diterima.

SMS BERHADIAH, HARAM

Deretan acara Kuis SMS ditayangkan berbagai stasiun TV menjadi bukti menjamurnya kuis SMS berhadiah. Hal itu ditanggapi serius oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Terbukti dengan dikeluarkannya fatwa haram atas adanya unsur judi dalam kuis SMS. Itu karena hadiah undian SMS bersumber dari akumulasi hasil perolehan SMS, dimana tarif SMS tersebut di luar ketentuan normal.
Seluruh penyelenggara pesan singkat premium diminta untuk menghentikan layanan SMS berhadiahnya sejak difatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Larangan itu kembali dipertegas dengan disepakatinya penghentian izin SMS berhadiah oleh Tim Pertimbangan dan Pengawasan Undian Gratis Berhadiah. Alasannya, SMS berhadiah dinilai mengandung unsur pertaruhan dan membuat masyarakat berangan-angan kosong.

MEMBODOHI MASYARAKAT

Pada kuis SMS berhadiah, illusion of control banyak dipakai sebagai senjata provider dalam bisnis kuis SMS. Coba perhatikan, apakah pertanyaan pada kuis SMS memang membutuhkan keahlian tertentu untuk dapat menjawabnya? Ataukah pertanyaannya memang mudah dan pilihan jawabannya pun dapat ditebak dengan mudah? Inilah illusion of control yang coba dibangkitkan pada peserta kuis SMS berhadiah.
Keyakinan bahwa ia mampu menjawab pertanyaan kuis dengan benar, menyebabkan peserta kuis merasa memiliki peluang yang besar untuk dapat memenangkan hadiah yang ditawarkan. Padahal pada kenyataannya, hampir semua orang juga bisa menjawab pertanyaan kuis SMS, dan probabilitas kemenangan kuis juga tidak menjadi besar.

Bagi provider yang menyelenggarakan kuis SMS berhadiah, keuntungan materi hampir dapat dipastikan akan besar. Sebagai gambaran, di tahun 2003, sebuah provider yang menyelenggarakan kuis Ramadhan, berhasil meraup keuntungan tak kurang dari 17 M dari 34.034.000 SMS yang masuk.
Asumsi keuntungan Kuis Ramadhan 1423 H provider itu adalah: jumlah kiriman SMS X harga SMS atau kalau di rupiahkan menjadi 34.034.000 X Rp 500,- = Rp 17.017.000.000,-. Keuntungan sebesar itu terjadi saat biaya per satu kali SMS adalah Rp 500,-. Dapat dibayangkan berapa rupiah keuntungan provider kuis SMS saat ini ketika setiap kali pengiriman SMS adalah Rp 2000,- ?
Ini berbeda ketika dilihat dari sisi konsumen kuis. Kuis SMS telah membodohi masyarakat. Secara tidak sadar seseorang telah dibangkitkan illusion of control-nya dengan diberikan pertanyaan yang mudah dijawab, sehingga mampu memancing seseorang untuk mengikuti kuis SMS dengan tanpa pertimbangan yang matang. Banyaknya peserta Kuis SMS membuktikan bahwa budaya instan semakin subur. Pemirsa digiring untuk berharap sesuatu yang besar tanpa bekerja keras.

BAGAIMANA MENYIKAPINYA?

Dampak negatif Kuis SMS berhadiah ini bisa diminimalisir dengan mengupayakan 3 alternatif. Yang pertama, penguatan kemampuan berpikir kritis seseorang. Bagaimana seseorang dapat menyadari potensinya untuk mengalami illusion of control, tetapi ia tidak mengikuti keyakinan semu-nya akan keberhasilan tanpa kerja keras. Upaya ini dapat dilakukan melalui pendidikan kritis, diawali dari lingkungan terkecil (keluarga), sekolah, masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama membangun suasana yang kondusif dalam membudayakan berpikir kritis.

Upaya kedua, melalui pemberian informasi dan penyadaran tentang kerugian mengikuti kuis SMS berhadiah. Informasi tersebut bisa diberikan melalui himbauan tokoh, atau kelompok-kelompok di masyarakat. Langkah MUI dapat dijadikan contoh.

Ketiga, perlunya ketegasan pemerintah untuk menindak atau menghukum pihak-pihak yang telah membodohi dan merugikan masyarakat.
Untuk segenap kaum muslimin, hendaknya kita selalu ingat firman Allah l,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.“ (an-Nisaa’:29)

Demikian, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadikan kita semakin waspada terhadap segala iming-iming uang instan. (ummuna)

Diambil dari Rubrik Lentera Majalah Nikah Sakinah, Vol. 9, No. 8.

http://majalahsakinah.com/2010/11/22/waspadai-iming-iming-uang-instan/


  1. dengan melalui kerja keras dan pengorbanan hasil yg akan kita dpat pasti lebih manis dan bermakna untuk di hargai….
    Cara instant = penipuan.
    Nice post…

    Like

    • betul banget, indah memang sebuah perjuangan
      nikmati proses yang dilalui, lakukan dengan semangat dan tawakal terhadap hasil yang akan timbul setelahnya

      Like

  2. hooh…
    ati2 mas

    Like

  3. ya, sekarang mesti pintar menentukan sikap n membaca situasi -sokdetektif.com🙂

    Like

    • zulva

      wahh,,,
      berguna sekali artikel mbak angga ini ya..
      terimakasihhh..^,^

      Like

      • ya sama2
        memang sekarang lagi nge-trend nie uang instan gitu
        perlu pintar2 mencermati
        btw a laki2…

        Like

  4. bagus ya ceritanyaa..😀

    Like

    • betul, ni artikel dari majalah nikah sakinah
      lebih lengkap bisa klik http://majalahsakinah.com/

      Like

  5. nining

    Alhamdulillah dah lama aku ga nemu mjlh nikah sakinah tp hr ni bs baca lwt perantaraan akhiangga….jzklh

    Like

    • terimakasih banyak juga kunjyngan n comentnya
      barangkali kalo suka online bisa kunjungi webnya majalah nikah langsung di http://majalahsakinah.com/
      sekarang namanya menjadi majalah SAKINAH

      Like

  6. nining

    ok

    Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: