Islam di India


Oleh: Muhammad Rusyid

Sudah dua bulan saya di India, tapi baru kali ini sempat menulis untuk Qiblati. Salah satu kendalanya adalah karena kesulitan beradaptasi dengan lingkungan. Saya masih sibuk dengan pengenalan budaya masyarakat di sini dan menyesuaikan diri dengan tempat kuliah saya di JamiaMillia Islamia University, New Delhi.


Berangkat Ke India

Setelah meninggalkan Indonesia, muncul perasaan sedih yang luar biasa. Saya harus meninggalkan keluarga. Kepada Allah semata kami berserah diri dan memohon perlindungan. Apalagi setelah tiba di Bandara Internasional New Delhi pada malam tanggal 7 Juli 2010, saya langsung merasa sangat asing dengan negeri ini. Untuk keluar dari bandara saja, membutuhkan waktu antri lebih dari 2 jam karena harus melapor ke bagian imigrasi terlebih dahulu. Antriannya begitu panjang, sayang tidak sedikit mereka yang memotong antrian saya. Tidak ada garis, tidak ada satpam atau apa pun yang mengatur barisan. Hanya etika yang coba saya jaga.

Setelah keluar dari bandara, kemacetan di sana sini dan suara klakson mobil yang saling bersahutan memekakkan telinga. Saya langsung berfikir, inikah India? Kesan kurang baik pun muncul.Alhamdulillah, akhirnya pada pukul 00.00 waktu Delhi (jam 01.30 WIB) saya di antar ke hostel oleh sopir dari perwakilan pemerintah India.

Awalnya saya membayangkan begitu nikmat akan tinggal di hostel karena sudah menempuh perjalanan panjang, Sejak pk. 8.00 pagi saya sudah berada di bandara Juanda, kemudian menunggu hampir 4 jam di bandara Kuala Lumpur. Waktunya untuk istirahat. Ternyata, hostel yang dimaksud adalah tempat yang tidak lebih dari barak. Di satu ruangan yang luas, saya lihat ada banyak orang yang tidur. Tempat tidurnya bertingkat seperti di pondok pesantren. Barang-barang berhamburan dan baju bergelantungan di mana-mana, bahkan di atas Air Condition (AC) sekali pun. Air pun menggenang di beberapa bagian lantai.

Saya masuk dan membiarkan penghuni sebelum saya tetap terlelap. Tapi saya berfikir keras, bagaimana caranya untuk segera meninggalkan tempat ini. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Bersyukur keesokan paginya setelah shalat subuh saya bisa menghubungi mahasiswa Indonesia yang ada di New Delhi dan minta untuk segera dijemput.

Berkenalan dengan India

Alhamdulillah, saya dijemput oleh seorang teman dari Indonesia yang juga kuliah di kampus yang sama. Saya tinggal di kampung muslim, tidak jauh dari kampus. Kadang kalau ke kampus saya jalan kaki, tetapi lebih sering naik rekshaw (sejenis becak yang ditarik dengan sepeda ontel, sopirnya di depan, bukan di belakang seperti di Indonesia). Saya sengaja tinggal di sini karena dekat dengan Masjid Jami’.

a. Islam di Kampung Muslim

Di masjid ini, awalnya saya begitu kaget. Setiap waktu shalat, ribuan jama’ah berbondong-bondong menuju masjid. Orang-orang tua, meskipun tidak lagi sanggup shalat sambil berdiri, mereka tetap berjama’ah lima waktu. Apalagi kalau hari Jum’at dan bulan Ramadhan, lima lantai masjid yang besar ini penuh sesak dengan jama’ah.

Hanya saja, ternyata ada beberapa perbedaan dari cara shalat di sini yang tidak umum di Indonesia. Mereka -kalau tidak salah- mengikuti mazhab Hanafi. Pada waktu iqomat misalnya, semua dibaca dua kali seperti adzan. Setelah membaca al-Fatihah, makmum tidak menjaharkan (mengeraskan) bacaan Amin. Mereka juga tidak mengangkat tangan ketika takbir dan i’tidal.

Kalau bulan Ramadhan, hanya dalam waktu 26 malam, semua Al-Quran dibaca khatam dalam shalat tarawih. Setiap malam, lebih dari satu juz. Shalat tarawih dilaksanakan 23 rakaat.

Adapun wanita, tidak pernah ke Masjid. Mereka kebanyakan menggunakan cadar, tetapi tidak seperti di Indonesia. Banyak yang bercadar tetapi tidak menutupkan hijab lebih rendah dari dadanya, bahkan ada beberapa yang bercadar menggunakan celana jeans. Saya tidak tahu, mungkin mereka melakukan itu bukan karena pemahaman agama, tapi terpengaruh dengan alam India yang begitu berdebu di musim panas.

Udara di sini pada bulan Mei, Juni dan Juli begitu panas, suhu selalu di atas 45 derajat celcius, bahkan mencapai 50 derajat celcius. Bisa dibayangkan kalau keluar rumah, keringat selalu bercucuran. Bahkan di dalam kamar pun kipas angin harus selalu dihidupkan. Sayang, di sini listrik sering mati.

Saking panasnya, saya sempat berfikir, kok ada orang yang mau tinggal di India. Bahkan muncul keraguan untuk terus di sini. Sanggupkah saya menghadapi udara yang seperti ini? Belum lagi budaya masyarakat India yang begitu keras. Saya pernah melihat mereka seperti sedang bertengkar, tetapi ternyata tidak lama setelah itu mereka sama-sama tertawa.

Hanya saja, ketika melihat banyak bayi, saya merasa kasihan sebenarnya. Tapi muncul pertanyaan, bayi kecil saja bisa bertahan, mengapa saya tidak? Melihat teman-teman yang sudah bertahun-tahun di India, bahkan beberapa sudah menyelesaikan S-3, saya jadi berusaha menguatkan tekat. Inilah mungkin perjuangan untuk melatih kesabaran. Bukankah azab di akhirat jauh lebih panas dari ini. Satu pelajaran yang kembali mengingatkan saya akan arti kehidupan. Apalagi saya diberi tahu teman, insyaAllah nanti bulan November-Februari sudah musim dingin (terkadang sampai di bawah 10 derajat celcius).

Hampir setiap selesai shalat subuh dan ashar diadakan pengajian. Sayang, bahasa Urdu yang dipakai, jadi saya tidak paham, kecuali menebak-nebak isi ceramah dari dalil Al-Quran dan Hadits yang disampaikan. Sempat saya berfikir, kapan di Indonesia bisa juga seperti ini.

Beberapa kali, saya bertemu dengan orang-orang dari Yaman, Malaysia, bahkan Indonesia yang datang ke sini. Ternyata, Jama’ah Tabligh yang markaz-nya di Nizamuddin, tidak lebih 5 km dari tempat saya tinggal, mengirim para jama’ahnya hampir ke semua masjid di India. Pernah saya mendengar isi ceramah dari ustadz mereka dari Yaman, dan saya tahu bahwa yang mereka sampaikan begitu sederhana. Mengajak orang shalat ke masjid, tertaqwa dan berda’wah. Hal-hal sangat umum saja tentang Islam, tidak mendalam.

b. Budaya Masyarakat di kampung Muslim

Ketika bicara tentang Islam di India, tidak berarti kebiasaan pemeluk agama lain lebih baik. Hanya saja ini murni sebagai pengalaman dan renungan saya tentang kondisi umat Islam. Saya ingin ada koreksi bahwa seringkali sesuatu kita anggap sebagai Islam, tapi ternyata sudah tercampur dengan lingkungan sekitar. Ada beberapa hal yang bukan dari Al-Quran dan Sunnah yang dianggap sebagai bagian dari Islam.

Lebih dari 80 persen umat Islam di India adalah orang yang menjadi mu’alaf dari agama Hindu, terutama yang berasal dari kalangan bawah. Mereka tidak bisa bertahan dengan konsep kasta yang begitu mengikat. Tetapi, ternyata hal itu memberikan beberapa pengaruh terhadap Islam di India, misalnya:

  • Sistem kasta tetap ada di kalangan Islam meskipun sedikit lebih longgar. Misalnya, seorang muslim yang berasal dari kasta rendah, jangan pernah berharap bisa menikah dengan mereka yang berasal dari kasta yang tinggi.
  • Budaya mereka sebagai masyarakat kelas bawah tetap melekat, misalnya dalam hal cara bicara yang keras dan kasar.

Pernah suatu hari, sepulang dari shalat maghrib saya melihat orang begitu ramai berkumpul di luar masjid yang otomatis membuat jalan di sebelah masjid menjadi macet. Ada dua orang yang sedang berdebat dengan suara keras seperti orang sedang berkelahi.

Saya mendekati seorang pemuda yang menurut saya dari wajahnya seperti seorang mahasiswa. Saya langsung tanya apakah dia berbahasa Inggris atau tidak. Ketika dia menjawab, ya, barulah saya tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ternyata, dua orang tadi sedang berdebat tentang ajaran Islam: masalah keutamaan shalat sunnah di masjid atau rumah.

Urusan lain yang juga sangat penting adalah budaya menjaga kebersihan lingkungan. India menurut saya sama sekali tidak bersih, apalagi di musim penghujan. Sebentar saja hujan, banjir akan terjadi di mana-mana. Sebabnya tidak ada selokan,  kecuali ada lobang di bawah jalan, itu pun lebih sering tersumbat.

Masyarakat juga punya kebiasaan membuang limbah di jalan. Sehingga di mana-mana pada musim tertentu kita bisa menemukan ribuan lalat yang berterbangan. Dan mereka membiarkannya begitu saja. Saya awalnya kaget, setelah mencari informasi, ternyata meskipun mereka muslim, tetapi tetap terpengaruh dengan budaya Hindu yang tidak membolehkan membunuh binatang.

Selain masalah budaya, hal ini tentu saja dipengaruhi oleh jumlah penduduk India yang sangat banyak, sekitar 1,2 milliar. 80% dari penduduk India hanya berpenghasilan kurang dari $20 perhari. Jadi sebagian besar orang Islam juga termasuk kelompok menengah ke bawah ini. Adapun jika ada pertumbuhan ekonomi yang pesat, itu dikuasi oleh segelintir orang yang disebut tuan tanah.

Oleh karena itu, tidak heran jika kita bisa menyaksikan sangat banyak pengemis dengan berbagai kondisi yang memprihatinkan. Ada yang tidak punya kaki, ada yang tidak punya tangan, ada yang berbadan kurus kering, dst. Terkadang, muncul perasaan kasihan terhadap mereka, tetapi manakala melihat mereka tidak pernah shalat, paling tidak setiap waktu shalat mereka tetap duduk pada tempatnya menunggu belas kasihan dari orang lain. Saya menjadi sedikit kehilangan simpati.Wallahu a’lam, saya takut jika hati ini menjadi tidak lagi tersentuh melihat orang-orang susah karena sudah menjadi pemandangan harian.

Selain itu, ketika saya mempertanyakan berbagai kondisi tersebut kepada seorang teman dari Kashmir, ia mengatakan bahwa pelayanan pemerintah yang tidak maksimal dan kurang adil terhadap umat Islam merupakan sumber berbagai masalah tadi. Konflik Kashmir pun menurut dia, bukanlah urusan sumber daya alam yang selama ini sering diberitakan. Persoalannya adalah 100% masyarakat Kashmir, kecuali para pejabat mereka, ingin bergabung dengan Pakistan sebagai Negara Islam. India yang merasa sakit hati atas pemisahan Pakistan 1947 dari India menjadikan ini sebagai sarana membalas sakit hatinya kepada Pakistan.

Inilah umat Islam India yang sebenarnya merupakan mayoritas kedua di dunia dengan jumlah tidak kurang dari 150 juta jiwa, tetapi mereka menjadi minoritas di negerinya sendiri.

Apa yang Menarik di India?

Secara sederhana, menurut saya yang menarik adalah masalah pendidikan. Biaya pendidikan di India sangat murah. Untuk level S-2 rata-rata hanya 700 ribu Rupiah per-tahun untuk mahasiswa lokal dan 5 juta Rupiah pertahun untuk mahasiswa asing. Bahkan di Aligarh Muslim University, 5 juta rupiah sudah termasuk semua biaya kuliah S-3 sampai tamat, bisa 3 – 5 tahun. Tidak heran, beberapa teman yang saya kenal, masih berusia 24 tahun sudah akan selesai S-3 tahun ini.

Meskipun murah, kualitasnya tidak diragukan. Semua dosen yang mengajar di India minimal sudah lulus S-3. Mereka begitu mudah ditemui dan berpenampilan sangat sederhana. Ada yang ke kampus pakai kopiah, ada juga yang hanya pakai sepeda ontel, padahal mereka adalah profesor. Jadi, nilai kesederhanaan sangat tampak nyata.

Mahasiswa S-2 sering disampaikan oleh dosen “you are just student (Anda hanya seorang siswa), alias seperti belum punya ilmu. Padahal secara teori mereka sudah sangat mumpuni. Sayang memang secara aplikasi masih kurang.

Jika ujian, selama 3 jam, mahasiswa diminta untuk mengerjakan 5 soal dari 7 soal yang diberikan sebanyak 30-an lembar. Jadi 1 soal, jawabannya minimal 6 halaman. Fasilitas yang ada pun juga serba terbatas, tetapi mereka benar-benar memanfaatkannya secara maksimal.

Oleh karena itu, budaya mahasiswa di sini sangat berbeda dengan kebanyakan mahasiswa di Indonesia. Kalau tidak segera pulang dan belajar di rumah, biasanya mereka akan segera ke perpustakaan. Jangankah waktu aktif kuliah, masa liburan saja, ruang baca perpustakaan tetap penuh.

Itulah India, negara yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan mengunjunginya, apalagi untuk sekolah. Tetapi Allah Maha Tahu mana tempat yang terbaik bagi saya.

Atas saran Ustadz Abu Hamzah untuk kuliah di kampus Islam, saya mulai merasakan manfaatnya. Minimal ibadah shalat di masjid terjaga, dan tidak kesulitan dengan masalah makanan, termasuk masalah lingkungan yang jauh dari maksiat. Wallahu a’lam bishowab. [*]

Sumber: http://qiblati.com/islam-di-india.html




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: