Rabbi…. Syukurku PadaMu


“Glek!” Hati Husna jadi deg-degan saat saat diajak memasuki rumah Indah. Begitu pintu dibuka bau pengharum ruangan langsung menyapa hidungnya. Sementara keramik hijau pupus nan bersih menambah nuansa sejuk ruangan tamu yang besar itu . Beberapa sofa mewah terhampar. “Gelombang Cinta” dalam pot-pot besar, menghiasi setiap sudut ruangan. Tampak sekali bila tanaman-tanaman mahal itu terawat dengan baik. “Ya Rabbi… ini rumah atau surga?” Batin Husna saking kagumnya.

Baru kali ini dia berkunjung ke rumah sahabatnya itu sejak mereka sekelas. Apalagi semenjak sebangku di kelas IPS mereka makin akrab meski keadaan mereka jauh berbeda. Indah kaya, bapaknya seorang karyawan senior di Pertamina, Ibunya karyawati di perusahaan ternama. Sementara Husna? Bapaknya hanya seorang tukang becak, dan ibunya penjual sayuran. Beruntung, pamannya yang PNS mau membantu biaya sekolahnya dan dua adiknya yang masih SD. Sebenarnya, dalam hati ia sering merasa minder jadi sahabat Indah. Tapi indah terlalu baik. Dia tidak sombong dan tidak pernah memandang status sosial dalam berteman.

Indah pernah juga main kerumahnya, yang hanya berdinding bambu, dan berlantai semen kasar, tanpa sofa empuk. Tapi indah saat itu tetap terlihat ceria dan happy-happy saja, meski hanya duduk di sebuah dipan bambu lusuh. Ah, indah…

“Kenapa Na, kok ngelamun? Ayo jus jeruknya diminum dulu!” Indah membuyarkan lamunan Husna.

“I… iya Ndah”. Husna gugup.

“Na, mungkin kamu mengira aku bahagia hidup di rumah mewah seperti ini. Padahal… aku selalu merasa kesepian. Kedua orangtuaku sibuk bekerja, dari pagi hingga menjelang malam. Kakakku satu-satunya kuliah di luar negeri. Di rumah ini… sehari-hari aku hanya ditemani pembantu.”

Husna terperanjat mendengar pengakuan Indah. Dia benar-benar tak menyangka, kalo Indah yang selalu tampak ceria itu menyimpan cerita duka di hatinya.

“Orangtuaku juga tak pernah mengajariku shalat dan mengaji. Aku malah belajar hal itu dari pembantu. Dan… jujur ya Na, aku baru menjalankan shalar 5 waktu secara rutin, sejak bersahabat denganmu.”

Mendengar penuturan Indah diam-diam Husna merasa bersyukur. Meski secara ekonomi keluarganya hidup dalam keterbatasan, namun mereka bahagia. Kedua orangtuanya selalu menekankan agar mereka bertakwa dan bertawakal pada Allah, karena Allah telah menjamin rizki bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka sekeluarga tak pernah meninggalkan shalat 5 waktu, juga membaca Al Q ur’an.

“Aku sering berpikir… kalo kamu lebih beruntung dariku, Na!” Ujar indah dengan mata berkaca-kaca. Husna menarik napas panjang seraya berbisik, “Sabar ya Indah… Orang sabar disayang Allah…”

Ia memeluk Indah erat-erat, dan membiarkan airmata sahabatnya itu membasahi jilbabnya. (Nisa)

***Dari elfata ed 7 vol 9


  1. Edayanto

    T___T

    Like

    • 😉

      Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: