Idul Adha Bertabur Musim Gugur


Merayakan Idul Adha di negeri orang, tentu menyimpan banyak hal istimewa yang tak terlupakan. Ada rasa sedih karena jauh dari tanah asal, namun ada cerita gembira karena di negeri orang ada sesuatu yang mungkin tak didapat di negeri sendiri. Kisah pengalaman Idul Adha di negeri Sakura inilah yang ingin dibagikan oleh Mas Brama kepada kita.

Semoga, ada hikmah dan manfaat yang bisa kita ambil bersama. Selamat menikmati…
Ketika hawa dingin perlahan menyelinap setelah sekian lama udara panas menerpa. Saat daun-daun mulai mengering dan luruh secara sukarela maupun dipaksa angin. Ketika suara serangga yang biasa terdengar di sebelah rumah sudah tidak lagi terdengar lantunannya. Dan saat pepohonan di taman kota berganti warna menjadi kuning kemerahan terkadang menyemburatkan coklat. Itulah pertanda musim gugur.

Di musim gugur itulah ibadah Idul Adha kami tunaikan tahun lalu, demikian juga tahun ini, Insya Allah. Ya…semenjak kami tinggal di Negeri Jepang, hari-hari tasyrik berlalu bersama balutan musim gugur. Musim gugur di Jepang menyisakan keindahan yang unik bagi kami. Kouyou atau Momiji, yaitu daun merah yang indah nan menawan seakan berpamitan sebelum menggugurkan diri, merupakan satu dari sekian banyak keunikan musim gugur. Kebiasaan unik lainnya terkait “selera makan“ dan “kebiasaan membaca“ ala musim gugur. Dalam bahasa aslinya, Shoku yoku no aki berarti “selera makan musim gugur” dan Dokusho no aki berarti “kebiasaan membaca di musim gugur”.

Mayoritas penduduk Jepang, menganggap musim gugur merupakan musim yang cocok untuk berkumpul dengan keluarga dan makan bersama. Saat itu periode malam lebih panjang daripada siang, shubuh jam 05.00 maghrib jam 16.30. Situasi demikian itulah dimanfaatkan membaca buku, mulai dari ilmu formal sampai dongeng fiksi, novel dan manga (komik). Suhu udara saat itu dirasa pas, sejuk tanpa pendingin ruangan. Dan suasana nyaman itulah, otak dan produktivitas dalam keadaan prima.

Tidak seperti di Indonesia yang beriklim Tropis dengan dua musim yaitu kemarau dan penghujan, Jepang memiliki empat musim yaitu gugur, dingin, semi, dan panas. Terkadang, kondisi ini terasa sangatlah berat karena terkadang aktivitas menjadi terganggu. Namun dibalik semua itu, tersimpan rahasia Ilahi yang begitu luar biasa. Meskipun tidak didukung oleh oleh kondisi iklim yang kurang menguntungkan dan sumbar daya alam yang melimpah, masyarakat Jepang justru tumbuh menjadi masyarakat yang maju. Terlepas dari berbagai penyimpangan yang ada, Jepang kini menjadi salah satu pusat ekonomi dan teknologi dunia. Alhamdulillah, Islam pun mulai berkembang luas di negeri ini dan mendapat sambutan hangat.

Masyarakat muslim di Jepang masih minoritas, populasinya masih dibawah 0.3%. Maka tak heran jika hari besar Islam yang hanya dua macam itu (Idul Adha dan Fithri) berlangsung biasa-biasa saja. Namun demikian, Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) di Jepang berusaha menyemarakkannya dengan berbagai aktifitas didukung penuh oleh pihak Kedutaan Besar RI, ada pengajian akbar, pengajian rutin, bazaar, diskusi silaturahim, pesantren kilat, sampai puncaknya berupa shalat Ied.

Seperti halnya pagi itu, didekap udara dingin berkisar 10-15°C, iring-iringan jamaah shalat Idul Adha mulai berdatangan ke Aula Sekolah Republik Indonesia di Tokyo (SRIT). Ada beberapa lokasi pelaksanaan shalat Ied di Jepang, tapi lokasi paling favorit bagi masyarakat Indonesia adalah SRIT. Tidak seheboh di tanah air, mereka berdatangan bergelintir menggunakan berbagai model transportasi, jitensha (sepeda), basu (bus), densha (kereta api), cikatetsu (kereta api bawah tanah), kuruma (mobil) dan aruite (jalan kaki). Saya termasuk diantara iringan jama’ah tsb. Wajah-wajah cerah nan sumringah terhias di raut muka kami, walau tinggal di negeri rantau. Seribu lebih muslimin Indonesia di daerah Tokyo dan sekitarnya tumpah ruah di aula SRIT, dan alhamdulillah cukup. Tidak seperti kasus shalat Idul Fithri yang sampai dibuat dua gelombang, shalat Idul Adha kali itu cukup satu gelombang. Ternyata masih banyak saudara seiman yang tidak mendapat ijin kerja, secara Idul Adha pas berada di hari kerja, sementara tidak ada istilah tanggal merah bagi hari besar Islam. Kasihan…wallahu musta’an.

Mendekati lokasi shalat Ied, kumandang takbir belum terdengar, maklum disini tidak diperkenankan memakai pengeras suara luar. Baru setelah memasuki gerbang pagar SRIT, riuh rendah suara takbir mulai menggema, merayap pelan menyelinap di hati sanubari, Allahu akbar…Allahu akbar…Laa ilaaha illaahu wallahu akbar…Allahu akbar…Walillahil hamd…

Khatib sengaja didatangkan dari tanah air. Tidak ada yang spesial dari sisi inti tata cara shalat Ied, ya iyalah syariat Islam harus sama se-kolong langit ini, kalau berbeda-beda bisa celaka atuh. Yang spesial adalah tidak adanya penyembelihan hewan kurban di Jepang sini, kalaupun ada, itu hanyalah spesial kasus dibawah pengawasan ketat pemerintah Jepang. Pemotongan hewan di Jepang hanya dilakukan di lokasi-lokasi tertentu yang memang sudah diakui sah oleh pemerintah Jepang, tidak boleh sembarangan, semua itu demi terjaganya kualitas hasil potongan yang nantinya akan dikonsumsi oleh masyarakat. Pun di SRIT hari itu, tidak ada penyembelihan hewan kurban. Walaupun tadi diumumkan banyaknya masyarakat yang menunaikan ibadah kurban, tapi pelaksanaannya tidak di Jepang, semuanya dialihkan ke tanah air tercinta. KMII menggandeng lembaga sosial terkenal di Indonesia, hasil penyembelihan kurban nantinya akan terdistribusikan ke tempat yang layak di Indonesia, mungkin anda tau salah satunya. Demikianlah, baru kali ini saya melewati Idul Adha tanpa penyembelihan hewan kurban, yang ujung-ujungnya tidak bisa pesta daging, semarak sate, limpahan gulai, tongseng dan masakan ala daging lainnya.

Sebagai gantinya, diadakan bazar makanan Indonesia di Lapangan Basket SRIT. Cukup meriah, cocok untuk melepas kerinduan akan citarasa masakan nusantara. Saya waktu itu beli semangkok bakso, hmm yummy…hangat di mulut, tenggorokan dan perut ditengah dinginnya udara muslim gugur. Sembari berbincang dan berkenalan dengan saudara sesama muslim lainnya, makin anget saja suasana pagi menjelang siang itu.

Demikianlah sekilas Idul Adha bertabur musim gugur di Tokyo tahun lalu, tahun inipun mestinya tidak jauh berbeda. Hanya satu harapan berbedaan yang saya inginkan, semoga iman dan amal saya (dan anda) tahun ini lebih meningkat, amin yaa mujibas saailin.

Selamat menunaikan ibadah Idul Adha, salam dari kami muslimin di Jepang.

dari web Majalah Elfata


  1. zul

    Semoga suatu saat orang-orang Jepang yang lebih berfikir rational ini akan bisa membaca literatur ttg islam, shg mrk akan masuk islam dgn jalan ilmiah dan menjadikan islam yg kaffah amin..

    Like

    • amin, akan sangat indah jika terealisasikan
      saudara kita akan semakin bertambah dan melihat sikap orang jepang yang taat menimbulkan sikap optimisme yang kuat mereka juga akan menjalankan din ini dengan taat

      Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: