Terima Kasih Telah Menerima Cintaku, Istriku…


Mula rasa ingin genapkan separuh din, kucari kemana permata indah tersimpan. Pencarian bersama perjalanan waktu beriringan niat suci penuh harap. Tak tahu siapa kelak dampingiku rengkuh jalan perjuangan. Hanya keyakinan kan kutemui belahan jiwa yang telah tertulis di atas sana.

Tersuak kabar kau pun tengah mencari bahagian tulang rusuk darimu bermula. Bersiap membuka pintu hati untuk ditemani lanjutkan perjalanan yang tadinya sendiri. Hadirkan pendamping di sisi.

Diriku senantiasa bertanya, inikah yang aku cari? Tapi keyakinan jadikan langkah terus berderap. Tak sabar kuingin menjemput, menghalalkan mahligai arungi samudera bersama.

Melalui seorang alim aku diantar menemuimu. Mula pertemuan buat jiwa gugup dan lidah kelu. Tak tahu apa kata hendak terucap. Namun kau ketengahkan keterbukaan yang mencairkan suasana. Dari batasan “ta’aruf” yang kita kenal tak banyak yang diperbincangkan waktu itu. Tak lama pula pertemuan untuk saling mengenal. Merasa ku termuliakan dengan hadirnya ayahmu disampingmu. Dengan itu jua ku telah merasa cukup untuk mempertimbangkan segalanya. Melanjutkan istikharah meminta petunjuk padaNya yang maha mengetahui.

Pertemuan pertama cukup membuatku tenang. Keyakinan semakin kuat menunjam kalbu. Bismillah. Kusiapkan lebih matang segala kebutuhan. Kusentuh sanubari kedua orangtuaku agar merestui ku meminangmu. Kuajak mereka menyeberang lautan meminta ijin kedua orangtuamu untuk menerimaku. Doa terlantun di bibir dari lubuk terdalam hati. Semoga segalanya kan berjalan sesuai anganan.

Setiba di rumahmu tenteram kurasa dengan sambutan hangat keluarga besar. Perbincangan ringan penuh kekeluargaan hilangkan segala keraguan. Pinangan pun tersampai, gayung bersambut penerimaan santun membuat seakan melambung tinggi di khayalan. Tinggal tempuh langkah terakhir untuk menikah.

Sabar menanti, waktu pelaminan pun tiba. Pertemuan kita yang ke tiga kalinya menjadi saksi lantunan janji setia. Riuh jantung ini berdegup berikan sokongan untuk bersiap mengemban amanah. Akad nan suci akhirnya terlaksana. Alhamdulillah, kita bersatu dalam ikatan pernikahan. Suami sebagai kepala rumah tangga, istri pendamping hidup, peran mulia mula kita galas berdua. Bersemilah kasih sayang dalam semerbak sunnah Rasul mulia.

***
Besit kenangan setahun yang lalu😉


  1. 1 KUMPULAN KISAH NYATA | enkripsi

    […] Terimakasih telah menerima cintaku, Istriku… […]

    Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: