Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

indexBtw teman-teman tahu berapa jumlah uang yang saya bawa ke Depok waktu itu? Jumlahnya 1.500.000 rupiah…ya segitu saja. Jumlah itu saya bawa karena setelah cari-cari informasi dari senior yang juga diterima PPKB UI, uang pembayaran yang mereka setorkan tidak sampai 1.000.000 rupiah…tapi itu tahun sebelumnya…ketika tahun saya ini tidak tahu.

Setelah melewati perjalanan panjang, dari Salatiga ke Karawang (ke tempat om yang kebetulan tinggal di sana, bapak saya meminta om saya itu untuk mengantarkan sampai ke Depok) sampailah saya di kos an mas Bayu Kristianto (halo mas Bayu…masih ingat kisah ini kan yah?), senior SMA yang sudah lebih dulu di UI. Beliau meminjamkan kamar kos nya untuk saya tinggali sampai saya bisa mengurus tempat tinggal di asrama UI.

Keesokan harinya saya berangkat ke gedung rektorat UI…di sebelah danau UI. Sudah berkumpul calon-calon mahasiswa dari penjuru Indonesia yang diterima melalui jalur PPKB. Dan saya pun ambil bagian dalam antrian tersebut. Saya terima sebuah map yang berisikan berkas-berkas yang harus saya isi dan nota pembayaran yang harus saya tanggung. Begitu saya lihat angka yang tertera di form tersebut, saya hanya bisa kaget…syok…jumlah uang yang tercantum di situ jauh melebih jumlah uang yang saya bawa. Saya lupa jumlah uangnya berapa (maklum sudah lama hehehe) tapi yang jelas apabila uang yang saya bawa itu saya serahkan semua sekalipun (sehingga saya tidak makan dan mbayar kos-kosan sekalipun) tidak akan cukup. Syok…ya satu kata itu…syok melihat jumlah yang demikian besar. Usut punya usut, tahun angkatan saya adalah angkatan yang pertama kali diberlakukan sumbangan DPKP yang selangit jumlahnya.

Tapi, segera kesadaran saya kembali…

“Oiya…ini malah semakin membuat saya HARUS menuntut hak beasiswa saya..!”

Akhirnya, setelah bertanya sana sini, saya dianjurkan menghadap ke biro keuangan.

Di Biro Keuangan (lantai berapa yah? 6 apa 5 kalo ndak salah ingat…) saya bertemu dengan salah satu staf di sana. Saya ceritakan semua hal yang ada pada saya dan surat-surat yang saya bawa. Tetapi, beliau tidak bisa memutuskan apa-apa (ya wajar wong pegawai biasa…) Akhirnya beliau meminta saya untuk kembali lagi hari besok untuk bertemu dengan Kepala Biro Keuangan.

Akhirnya…setelah seharian berkutat dengan birokrasi dan administrasi saya pulang ke kos pinjaman😛.

Keesokan harinya saya pagi-pagi segera kembali ke rektorat untuk menemui Kepala Biro Keuangan. Nama beliau ibu Farida dari FMIPA (saya ingat benar karena sepanjang kuliah saya sering berurusan dengan beliau masalah beasiswa). Pertama kali berurusan dengan birokrasi yang tidak saya ketahui alur-alurnya…di kota yang saya asing di dalamnya pula…sendirian tanpa ada yang menemani pula, yang ada di dalam hati saya adalah deg-deg-an sambil terus komat kamit membaca “Rabbi shrahlii shadri, wa yasirlii amri…”

Akhirnya sampailah saya di depan ruang beliau. Celingukan saya lihat-lihat di dalam ruangan kok sepertinya beliau belum datang. Akhirnya saya tunggu sampai kurang lebih 30 menit, barulah nampak seorang ibu-ibu berkerudung berkacamata yang nampak baik hati dan ramah menyapa setiap anak buahnya yang ada di situ. Ya, beliau itu ibu Farida (halo ibu Farida, masih ingat saya bu?🙂

Setelah selang sebentar, resepsionis di kantor beliau meminta saya masuk untuk menemui beliau.

(percakapan di bawah ini ndak sama persis lho…seingat saya saja)

“kenapa mas?”

“begini bu…saya sebenarnya diterima PPKB di sini, cuma saya tidak mampu dari sisi keuangan. Tetapi saya punya bekal surat keterangan sebagai penerima beasiswa UMPTN yang bisa menanggung seluruh biaya kuliah saya sampai selesai. Nah kedua surat itu ternyata ditandatangani oleh bapak Rektor UI. Apakah tidak bisa bu, beasiswa saya itu ditransferkan untuk saya ikut PPKB saja?”

“Wah saya kurang tahu ini mas…bentar ya…”, jawab bu Farida dengan nada beliau yang khas keibuan–masih saya ingat benar, meskipun beliau mungkin tidak ingat saya.🙂

Beliau akhirnya mencoba mengkontak beberapa orang via telpon dan terlibat pembicaraan serius. Lamaaa saya tunggu sampai menjelang siang, akhirnya beliau menuliskan sesuatu di surat registrasi PPKB saya.

“Mas, besok rabu kamu bawa surat ini ke ruang sebelah sana ya…kamu selesaikan administrasi di sana. Kamu ndak perlu membayar….”

Subhanallah…bergetar hati ini mendengar kata-kata itu. Ya Allah…Engkau benar-benar tidak memberikan jalan buntu. Ketidakputus asaanku berbuah manis…doa ku Engkau dengar Ya Allah…

Akhirnya aku pulang kembali ke Salatiga dengan membawa kabar baik itu dan membawa kembali uang 1,5 juta yang diberikan orangtua saya (tidak utuh sih soalnya saya pakai untuk makan dan bayar bis pulang ke Salatiga) sejumlah 1,3 juta.

Dan dimulailah kehidupan saya sebagai mahasiswa UI…dengan mulusnya? Oo tidak bro…jalan kuliah saya tidak semulus yang kalian kira, terutama dalam masalah keuangan. Perjalanan ini masih sangat panjang…

Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (3)

Sumber : Note Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D


  1. 1 Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik (1) | enkripsi

    […] Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (2) […]

    Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: