Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik (4)


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

aAkhirnya, bulan September 2002 saya berangkat ke Nagoya Jepang. Bayangan akan belajar di sebuah universitas di Jepang yang akan memberi saya pengalaman berbeda dengan di Indonesia membuat saya semakin bersemangat. Berbekal tiket gratis dan uang saku gratis😛

Sampai di sini, tentu saja nggak ada yang membayangkan anak seorang pedangan biasa di sebuah kota kecil di daerah bisa KULIAH…iya KULIAH di luar negeri. Bukan untuk jalan-jalan tetapi untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, sesampainya saya di Nagoya, yang ada dipikiran saya adalah saya mengambil sebanyak mungkin apa-apa yang tidak mungkin saya dapatkan selama belajar di Indonesia…apa itu? Oleh-oleh? Barang elektronik? wooo bukan Brow…tapi ilmu yang akan saya pelajari dan saya bawa pulang ke Indonesia lagi.Btw, sesaat sebelum berangkat (yaa bukan sesaat banget sih…bbrp hari sebelum berangkat ke Jepanglah…😛 ) terjadi percakapan antara saya dan kaprogdi Sastra Jepang UI waktu itu, bu Lea. (Lagi-lagi…percakapan ini isinya g persis tapi seinget saya aja yah)

“Sensei (begitulah kita manggil dosen-dosen)…kalo pengin jadi dosen gimana yah caranya?”

“Kamu mau jadi dosen itu karena pegawai negerinya atau karena yang lain?”, tanya bu Lea.

“Saya seneng baca dan belajar…dan rasa ingin tau saya besar..saya kira pekerjaan yang cocok buat saya kok dosen atau peneliti…gitu sensei…”

“Ooo…kamu mau punya keahlian apa?”

“Nah itulah sensei..saya mungkin tertarik dengan studi masyarakat…cuma kok belum puas di situ..”

“Coba deh kamu kuasai apa yang sensei-sensei di sini belum kuasai…”

Kalimat yang terakhir inilah yang saya anggap menjadi kalimat tantangan untuk saya. Ya…saya harus menguasai apa yang dosen-dosen Sastra Jepang UI belum kuasai…apa yang mereka semua belum bidangi sehingga saya punya karakteristik dibidang keilmuan saya.

Pada waktu itu saya sedang tertarik dengan tema masyarakat marginal di Jepang dan perkembangan mereka secara historis. Tetapi seiring dengan saya belajar, ternyata masalah-masalah tersebut berakar pada sistem ideologi yang berkembang di Jepang yaitu Konfusianisme. Ketika saya ceritakan temuan saya ini ke salah satu dosen yang saya tahu benar beliau kuat di bidang keilmuannya, beliau hanya komentar:

“Kamu yakin bisa dapat data untuk meneliti seperti itu? Trus kalaupun dapet, bisa tho kamu membacanya…setidaknya itu pasti ditulis dgn bahasa klasik yang jelas susah dibacanya. Sensei-sensei kamu saja kan ndak semuanya bisa baca seperti itu!….” (halo pak BBW, masih ingat dengan ini? hehehe)

Akhirnya, ketika waktunya berangkat ke Nagoya Jepang, saya sudah tahu persis apa yang ingin saya dapatkan di sana dan saya bawa pulang ke Indonesia nanti. Iya….benar…itu adalah kemampuan membaca dan menganalisa teks-teks dengan bahasa klasik dan segudang pengetahuan tentang sistem pemikiran Konfusianisme yang berkembang di Jepang.

Mungkin teman-teman bila mendapat kesempatan ke Jepang untuk kuliah 1 tahun, gratis, dapat uang saku pula…yang terencana di pikiran adalah: Gimana caranya mumpung di Jepang bisa jalan-jalan ke mana-mana…keliling Jepang…banyak-banyak ambil foto biar bisa ditunjukkan ke sanak sodara kalo sudah ke sana…(ih suudzon yah..hahaha). Tapi saya sebaliknya, kesempatan saya untuk kuliah di Jepang saya manfaatkan untuk bisa meraup ilmu yang tidak ada di Indonesia. Buku-buku dan sumber-sumber referensi jauuuuuuuuhhh lebih banyak di sana…akses informasi jauuuuuuuhhh lebih gampang di sana….sehingga apabila kadang ada teman-teman yang mendapat kesempatan yang sama lebih suka jalan-jalan, saya lebih suka nongkrong di perpustakaan untuk mencari-cari referensi belajar dan baca buku di situ. Apabila sudah selesai waktu di perpus sedang saya ingin membaca lebih dalam, tidak jarang buku-buku tebal-tebal itu saya pinjam dan bawa pulang. Apabila mungkin ada yang lebih senang berfoto-foto di objek wisata, saya lebih suka kelayapan di toko-toko buku bekas untuk mencari buku-buku yang bisa saya bawa pulang ke Indonesia. Walhasil, “oleh-oleh” yang saya kirimkan ke Indonesia pas mau pulang dulu adalah beberapa kardus buku dan fotokopian bahan. Orangtua saya pernah nyeletuk pas melihat itu dulu ketika kiriman itu sampai:

“Tak kiro isine oleh-oleh, jebule buku…(dikirain isinya oleh-oleh, ternyata malah buku…)”, saya jawab:

“Tenang…iki mengko biso dadi duit meneh, insyaAllah…(tenang bu, ini nanti bisa jadi duit lagi, InsyaAllah)”.

Selama kuliah di Nagoya saya secara khusus minta kepada pembimbing akademik di sana untuk mengijinkan saya belajar ke profesor yang ahli di bidang yang saya ingin kuasai itu tadi. Akhirnya saya diperkenalkan kepada Profesor Sakurai Susumu, yang saat itu menjadi satu-satunya ahli sejarah pemikiran yang ada di Nanzan University. Saya pun di antar hingga ke laboratorium beliau dan saya ceritakan dan beliau sangat senang dengan ketertarikan saya pada bidang tema penelitian tersebut.

“Kalau orang Cina atau Korea yang belajar ini, itu sudah biasa…apalagi mereka sudah biasa membaca teks-teks Konfusianisme. Tapi kamu dari Indonesia…di negara mu tidak dipakai Konfusianisme itu sebagai sebuah ideologi…heran saya…ngapain kamu mau belajar seperti itu?”, canda Prof. Sakurai kepada saya.

“Rasa ingin tahu saya ndak bisa dipuaskan sensei, jadi saya ingin tahu lebih dalam lagi…”, jawab saya singkat.

Akhirnya, beliau juga memperkenalkan saya kepada beberapa associate profesor yang ada di lingkungan Nanzan University yang bisa membantu saya untuk “kursus singkat” sekian banyak ilmu-ilmu metodologi penelitian sejarah penelitian (Intellectual History) Asia Timur, khususnya Jepang. Hampir setiap hari saya wara wiri ke laboratorium Prof. Sakurai hingga akhirnya jadilah draft skripsi saya dalam bahasa Jepang (bayangin…ketika itu saya masih tingkat 3 di UI tetapi karena drill dari sekian profesor dan para asistennya yang membantu saya di Jepang akhirnya saya mampu menulis sebuah laporan penelitian dalam bahasa Jepang) yang setelah kepulangan saya ke Indonesia di tahun 2003 diterjemahkan dan diringkas serta kemudian diajukan menjadi skripsi S1 saya dengan judul:

Pengaruh Shushigaku di zaman Edo: telaah pengaruh pemikiran Hayashi. Razan pada sistem politik dan struktur masyarakat feodal zaman Edo awal

cari aja deh di google, abstrak dan metadatanya ada di digilib.ui.ac.id🙂

Di akhir-akhir saya di Nanzan University Nagoya, prof Sakurai akhirnya mencoba mengajak bicara tentang suatu tema yang tidak saya duga-duga…

“Kamu setelah selesai dari kuliah di Indonesia mau ngapain…?”

“Belum tahu sensei…saya sih ingin jadi pengajar di Universitas atau peneliti di sebuah lembaga riset…cuma untuk itu sepertinya saya masih harus banyak belajar…”, jawab saya.

“kamu tidak ingin melanjutkan kuliah? Tingkat master misalnya…”, tanya beliau

“Ya kalau ingin sih…ya ingin cuma saya juga ingin bekerja karena saya ingin membantu orangtua di rumah…kalau saya bekerja sambil kuliah, mesti uang gaji saya akan kepakai untuk kuliah…”

“kalau begitu, kenapa tidak dicoba kuliah dengan beasiswa di sini saja…?”

“bisa ya sensei?…”

“ya saya belum bisa jamin karena kita harus berbicara dengan pihak universitas dulu, tetapi bila bisa, kamu bisa belajar di tempat saya ini saja…”

“(dengan kegirangan…) saya mau sensei…”

Maka dimulailah sesi kejar-mengejar…nanya menanya tentang prosedur kuliah di Nanzan University hingga ke pengurusan beasiswa di berbagai kantor universitas. Yang saya kejar adalah beasiswa negara (istilah Jepang untuk beasiswa monbukagakusho). Akan tetapi, sayangnya meskipun profesor Sakurai sudah menyatakan siap menampung saya, untuk pengurusan beasiswa negara tidak semudah yang dikira. Hal ini dikarenakan status Nanzan University yang PTS. Sebenarnya prof. Sakurai menawarkan beasiswa yang lain, cuma saya katakan ke beliau, “kalau beasiswanya terlalu kecil dan mensyaratkan saya tidak boleh kerja sambilan agak susah sensei. Bagaimana saya bisa membantu orangtua di Indonesia kalau untuk saya saja tidak bersisa?” Akhirnya beliau memberi saran, “coba kamu cari tahu UI punya kerjasama dengan universitas lain tidak di Jepang…”

Saya ubek-ubek situs UI (yang waktu itu tidak selengkap sekarang ini…) dan mencari tahu universitas-universitas Jepang mana saja yang memiliki MoU kerjasama dengan UI….capek deh rasanya krn tiap hari melototin dan mencari informasi-informasi itu…

Suatu hari sepulang dari kampus Nanzan…sambil berjalan ke arah stasiun Irinaka saya (seperti biasa) berjalan pelan sambil membaca buku yang baru saja saya pinjam dari perpustakaan univ. Nanzan. Buku itu berjudul 儒学・国学・洋学 (Konfusianisme, National Learning dan Western Studies) yang merupakan salah satu seri dari 日本の近世 (Jepang Abad Pertengahan). Saya sangat kagum dengan ulasan-ulasan dan analisa yang ada dalam buku tersebut, hingga penasaran latar belakang orang yang menulisnya. Nama penulisnya adalah Rai Kiichi (belakangan saya baru tahu kalo “nasab” orang ini hebat…dia cucu dari Rai San-yo, salah seorang intelektual Jepang abad pertengahan). Beliau mengajar di Hiroshima University.

Deg….

“Hiroshima University????…kok kayaknya kemarin saya lihat ada nama universitas ini di list MoU UI….”

Langsung saya kembali ke lab komputer, buka internet dan mencari tahu. Ternyata benar…antara UI dan Hiroshima University baru sekitar 1 tahun yang lalu (waktu itu, kalo ndak salah ingat) menandatangani MoU.

“Berarti MoU ini bisa saya manfaatkan sebagai alat untuk mengajukan beasiswa negara…:, pikir saya. Saya putuskan untuk besok mencoba menghubungi si penulis buku tersebut.

Keesokan harinya…

sesampainya saya di kampus Nanzan, segera saya hampiri telepon umum yang ada di dekat kantin dan segera memencet nomor-nomor yang telah saya cari via internet sebelumnya. Dengan hati yang berdebar-debar…saya menunggu siapakah yang mengangkat telepon di seberang sana…apalagi dengan bahasa Jepang yang cukup pas-pasan kalo untuk ber”diplomasi”, rasa takut menghantui diri saya….hanya satu sandaran saya: Ya Allah, lancarkanlah lidahku ini untuk berbicara….Klek…terdengar suara gagang telpon diangkat…

(pembicaraan dalam bahasa Jepang lho ya…bukan bhs Indonesia)

“Iya…”

“Maaf nama saya Andy Bangkit dari Indonesia…boleh berbicara dengan Rai Ki-ichi sensei?”

“Ini telpon dari Indonesia?”

“Bukan…saya sekarang sedang berada di Nagoya…”

“Oooo saya kira dari Indonesia…iya saya sendiri Rai Ki-ichi…”

Deg…ternyata yang saya ajak berbicara adalah beliau sendiri…

“Maaf mengganggu sensei…saya telah membaca buku yang sensei tulis…dan saya tertarik untuk belajar lebih dalam tentang Konfusianisme…kalau sensei berkenan saya minta ijin untuk boleh belajar kepada sensei di Hiroshima University…”

“…hmmmm….hmmm…kamu di Nagoya ngapain?”

“Saya belajar di Nanzan University di tempat profeso Sakurai Susumu”

“Ooo Sakurai ya…tapi maaf…saya tidak bisa menerima kamu di tempat saya sekarang…”

Mendengar ini pecah sudah hati saya berkeping-keping (jiah lebay)…bagaikan ditolak cinta oleh gadis rupawan…(hahaha)

“Ooo begitu ya sensei…”, jawab saya sendu

“Tapi sebagai gantinya, kamu coba hubungi Nakamura Shunsaku di Fakultas Ilmu Pendidikan. Dia masih muda dan lebih layak kamu pelajari daripada saya…kamu coba hubungi dia, nanti saya akan bicara juga ke dia…”

“Terima kasih sensei…saya akan segera menghubungi beliau…”, jawab saya dengan penuh harapan.

“Iya…segera hubungi dia ya…”

“Iya sensei, terima kasih…”

Langsung saya berlarian ke lab komputer untuk lebih dalam mencari tahu tentang Nakamura Shunsaku. Beliau ternyata (waktu itu masih associate profesor yang kemudian dlm waktu bbrp bulan kemudian naik menjadi profesor) salah seorang ahli sejarah pemikiran yang juga ada di Hiroshima University. Nomor telepon ruangan dan alamat email beliau pun tertera di situs kampus, sehingga mudah bagi saya untuk segera menghubunginya.

“Iya…halo…”

“Maaf, apakah saya bisa berbicara dengan Nakamura sensei?”

“Iya saya sendiri…”

“Maaf, perkenalkan saya Andy Bangkit dari Indonesia. Saya mendapatkan informasi tentang sensei dari Rai Ki-ichi sensei. Saya saat ini tengah belajar di Nanzan University dengan prof Sakurai Susumu dan saya ingin melanjutkan studi. Ada sedikit permasalahan di Nanzan mengenai administrasi untuk beasiswa, oleh karena itu saya ingin mengajukan permohonan untuk bisa belajar di Hiroshima…”

“Ooo begitu ya..apakah kamu punya sesuatu yang bisa saya baca-baca supaya tau kamu sudah belajar sampai mana?”

“Oh, ada sensei…saya punya draft skripsi saya yang baru saja selesai saya tuliskan.”

“Kalau begitu faks kan itu ke nomor ruangan saya ini ya…akan saya baca. Nanti saya hubungi lagi bila saya sudah selesai…”

“Baik sensei….”

Saya kembali bergegas ke kantin di mana ada sebuah mesin faks umum di situ. Saya kirimkan lembar demi lembar termasuk surat permohonan ingin belajar ke Hiroshima untuk Nakamura sensei. Surat itu ada di lembar pertama, dan setelah keluar dari mesin faks, ibu-ibu petugas kantin yang membantu saya nge-faks itu mengambil dan membaca (dengan melirik saja sih…). Tiba-tiba dia tersenyum ke saya dan berkata:

“Anak muda Jepang jaman sekarang mungkin sudah sedikit…bisa dihitung dengan jari yang bisa menulis surat korespondensi dgn bahasa Jepang yang begitu halus seperti yang kamu tulis ini…semoga berhasil ya …!”, katanya ramah.

saya pun tersenyum dan menjawab, “terima kasih…🙂 ”

Faks pun sudah terkirim…tinggal nunggu hasilnya. Sehari…dua hari…tiga hari…tidak ada jawaban. Ah, mungkinkah ucapan Nakamura sensei kemarin itu hanya basa-basi ke saya? Pun tidak ada jaminan dia akan membacanya…tidak ada jaminan beliau tertarik ke saya…ya sudah lah. Yang penting sudah usaha…

Beberapa hari kemudian, seperti biasa setelah kuliah di pagi hari di Nanzan, siangnya saya berkumpul dengan teman-teman dari Indonesia lainnya di ruang komputer untuk sekedar chat dengan teman-teman yang masih di Indonesia. Sambil nunggu koneksi, saya buka email saya dan mata saya tertegun pada sebuah email…

From: Nakamura Shunsaku

Begitu tulisannya….hah!!!! beliau memberi jawaban…dengan hati berdebar-debar saya klik subjek email untuk melihat isinya….dan…isinya singkat:

Saya sudah baca tulisan Anda. Kapan Anda bersedia datang ke Hiroshima untuk makan siang bersama saya?

ttd

Nakamura

Bungah rasa hati ini…Ya Allah, inikah jalan rizki-Mu? Terima kasih Ya Allah…langsung saya kirim balasannya dan janji akan datang lusa, ke Hiroshima.

Tapi ini bukan berarti saya pasti dapat belajar ke Hiroshima University…kenapa? Karena perjalanan masih panjang lagi….

(to be continued)

Sumber : Note Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D


  1. 1 Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik (3) | enkripsi

    […] Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (4) […]

    Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: