SISI LAIN SEBUAH PERJALANAN AKADEMIK (6)


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

jabattanganSebulan setelah pertemuan saya dengan Prof. Nakamura saya kembali lagi ke Indonesia, dan tanpa ba-bi-bu lagi saya segera menghadap kaprogdi Sastra Jepang UI pada waktu itu ibu Lea Santiar untuk mengajukan penulisan skripsi. Yah, selain mengajukan itu saya ceritakan pula bahwa ada tawaran dari Prof. Nakamura untuk melanjutkan studi di Hiroshima nantinya dengan dapat dibantu apabila saya ada masalah dalam berbagai hal yang terkait dengan akademik nantinya.

“Tema skripsi kamu apa?”
“Saya sebenarnya ketika di Jepang sudah membuat tulisan tentang bagaimana pengaruh Konfusianisme dalam membentuk struktur masyarakat feodal Jepang di jaman Edo…ini sensei…”

Begitu jawabku sambil menyodorkan tulisan yang sudah saya buat selama di Nanzan kepada bu Lea. Kemudian bu Lea berkata, “Kamu sudah ada pikiran pembimbingnya ingin siapa?”

“Hmm…yang paling dekat dengan bidang ini kalau saya pikir kalau nggak bu Ida (Dr. Siti Dahsiar Anwar) atau pak Ketut (Prof. I Ketut Surajaya)”

“Kalau kamu memang mau melanjutkan studi lagi di Jepang nantinya…mending ke pak Ketut aja kali yah..yang sudah profesor sekalian…jadi yang di Jepang juga puas nantinya…”

“Iya sensei, saya sih siapapun yang membimbing insyaAllah siap…”

Akhirnya dimulailah proses penulisan skripsi saya di bawah bimbingan Prof. Ketut.

Saya sendiri mengagumi beliau–apalagi kalau beliau bercerita masa muda beliau dulu ketika kuliah–dan pernah ingin kalau-kalau pak Ketut membutuhkan asisten, saya ingin melamar menjadi asistennya–sayangnya status “asisten” pak Ketut baru bisa saya dapatkan setelah saya dan beliau bersama-sama mengampu mata kuliah Japanese History di Universitas Dian Nuswantoro tempat saya bekerja sekarang. Ya…beliau mengajar dan saya asistennya🙂

Proses bimbingan antara saya dan pak Ketut tidak membutuhkan waktu lama karena selain isi dari skripsi sudah selesai saya buat dan pak Ketut tidak ada keberatan dengan hal itu, juga karena proses penulisan yang saya percepat sehingga kurang lebih semua hanya membutuhkan waktu 2 bulanan saja.

“Tulisan kamu ini bukan lagi levelnya anak S1 tapi S2…makanya untuk skripsi, kamu coba turunkan level pembahasannya….jangan terlalu tinggi karena yang menguasai materi Sejarah Pemikiran pun tidaklah banyak…”, begitu pesan pak Ketut setelah membaca tulisan yang saya buat di Jepang dulu. Pesan ini yang saya laksanakan dalam penulisan skripsi saya.

Tetapi, teman-teman…bukan skripsinya lah yang membuat menarik tetapi kondisi di mana saya bisa berinteraksi dengan pak Ketut secara intens itulah yang menarik. Salah satunya adalah cerita ini….

Suatu hari laptop pak Ketut rusak dan kebetulan saya bisa memperbaikinya karena yang rusak hanya softwarenya yang tidak bisa mengeluarkan huruf Jepang seperti biasanya. Akhirnya saya diajak masuk ruang dosen dan didudukkan di salah satu meja, sedangkan pak Ketut di meja sebelahnya sambil menunggui saya memperbaiki laptopnya. Di seberang meja pak Ketut sedang duduk pak Bambang….ya pak Bambang Wibawarta. That’s right…hanya kami bertiga yang ada di ruangan.Sambil saya memperbaiki laptop–entah darimana beliau tahu kalau saya ingin jadi dosen–, pak Ketut bergumam…

“Dosen itu bukan pekerjaan Ndi…tapi panggilan. Banyak orang-orang yang pandai tetapi mereka tidak bisa mentransfer apa yang mereka ketahui itu ke banyak orang. Banyak orang yang pintar mengajari sesuatu tetapi mereka tidak memiliki bekal apa yang harus diberikan kepada orang-orang. Seorang dosen berbeda dengan guru yang lain. Seorang dosen itu harus aktif mengupdate ilmunya…seperti kamu ke Jepang kemarin itu kamu mendapatkan ilmu-ilmu yang up-to-date…maka dosen-dosen yang sudah lama seperti kita ini harus belajar juga sama kamu ttg apa yang sudah kamu dapatkan di sana…ya pak Bambang…”

“Iya betul…”

“Semangat untuk belajar itu tidak boleh hilang…kalau sudah hilang maka ilmu yang kuno itu tidak akan laku lagi di kalangan mahasiswa. Mereka sudah bisa belajar sendiri…jadi dosen itu harus bisa dihargai karena ilmunya…bukan karena galaknya bukan karena susah ngasih nilai baik…itulah dosen…”

Pesan pak Ketut yang diiyakan oleh pak Bambang inilah yang menancap di benak saya sejak saat itu. Inilah figur ideal seorang dosen…mau untuk belajar terus menerus tanpa henti.

Terus terang saya sendiri pernah memiliki pengalaman buruk dengan yang namanya dosen. Ketika itu saya dan teman saya Kris Hartanto mengikuti sebuah seminar museum dan kepurbakalaan di Ungaran. Siswa-siswi SMA se Jawa Tengah berkumpul di situ setelah sebelumnya kita diwajibkan membuat makalah tentang museum atau kepurbakalaan. Oiya…selain saya dan Kris Hartanto, disitulah tempat saya bertemu pertama kali dengan teman dan sahabat saya sampai sekarang–dan malah suaminya juga jadi sahabat kita sekeluarga—yaitu Tuntas Margi Hartini (Tas-chan mesti masih inget ini…hehehe).

Ke-traumaan saya terjadi ketika dalam sebuah sesi seminar ada pembicara yang dosen sejarah atau arkeologi (saya lupa) dari sebuah PTN ternama–ndak perlu saya sebut lah di sini…—beliau menerangkan tentang peraturan pemerintah yang melarang dead monument digunakan sebagai alat peribadahan. Sejenak saya ingat ketika saya dan Kris melakukan observasi ke museum Radya Pustaka di Solo saya dan dia menemukan sebuah ujung geladak kapal yang disimpan di sebuah ruangan dan di bawahnya diletakkan secangkir kopi, bunga mawar dan kemenyan. Karena penasaran kita tanya ke salah satu petugas di situ dia menuturkan, “Mas kalo ndak dikasih seperti itu katanya seisi ruangan bakal bau anyir darah…jadi macem sesajen gitu”.

Fenomena inilah yang kemudian menggelitik kami untuk menanyakannya pada si dosen.

“Pak kami menemukan fenomena seperti ini ini ini di museum Radya Pustaka. Kalau menurut undang-undang yang menyebutkan bahwa dead monument tidak boleh dijadikan sarana peribadahan, maka bukankah fenomena tersebut melanggar aturan pak?”

si dosen itu kemudian menjawab, “Hmmm ndak mas…kalau yang di Radya Pustaka itu mungkin bukan sesaji tapi hanya untuk menghilangkan bau saja…”

Jegeeeerrrr…..jawaban yang sangat cetar membahana….

Logika saya ndak nyampe untuk bisa memahami bagaimana segenggam bunga mawar, kemenyan dan secangkir kopi bisa menghilangkan bau sebuah ujung geladak kapal yang demikian besarnya? Apa mungkin…bukankah jawaban dari si penjaga museum sudah cukup membuktika bahwa ada ritual “ibadah” di situ? Bukankah si dosen seharusnya bisa tinggal mengakui, “ya ada dead monument yang oleh masyarakat dijadikan sarana ibadah tetapi seharusnya tidak boleh yang demikian ini…” tanpa mengaburkan fakta yang jelas-jelas bisa dipahami tanpa logika kampusan sekalipun?

Sejak mendengar jawaban itu saya sedikit banyak mulai berpikir bahwa ada juga dosen yang bukan orang-orang yang logis dalam menjawab pertanyaan. Dosen-dosen yang tidak kompeten atau kurang menguasai bidang ilmunya…dosen yang tidak bisa mengatakan secara jujur apa yang dikatakan oleh ilmu pengetahuan. Dosen yang tega memanipulasi narasi ilmiah atas sebuah fenomena masyarakat. Dan karena kejadian itu semakin kental dan nyatalah figur dosen ideal yang ada dibenak saya. Oleh karena itu, sampai saat ini saya sangat tidak suka dengan dosen-dosen yang tidak kompeten dalam ilmunya…dosen yang tidak memperhatikan kadar keilmuannya…sudah sejauh apa up-date nya…sudah sejujur apakah dia menyampaikan pelajaran kepada mahasiswanya…sudah sebanyak apa ilmu yang sudah dia sampaikan dengan logika dan dipahami oleh mahasiswanya dst dst dst…..

Di sinilah mungkin karakter saya sebagai seorang akademisi berawal dan terbentuk.

Setelah skripsi selesai ditulis, masuklah masa sidang. Kalau teman-teman ada yang merasa deg-degan, panik…kalau saya malah babar blas ndak ada rasa itu…saya nyantai. Ya tidak lain itu karena saya menguasai benar apa yang saya tulis, kalimat per kalimatnya. Dan tidak diduga, sidang skripsi yang biasanya makan waktu berjam-jam…hanya saya lewati dalam waktu setengah jam. Semua pertanyaan dosen penguji dapat saya jawab dengan enak dan tenang sehingga alhamdulillah saya dapatkan nilai A untuk skripsi saya tanpa ada revisi.

Satu pelajaran yang mempengaruhi konsep dosen ideal bagi saya yang saya dapatkan ketika ujian skripsi adalah sebuah ucapan dari salah satu dosen yang sudah cukup sepuh. Beliau adalah bu Ansar. Setelah selesai ujian, beliau menyapa saya dan berkata: “Kamu semester ini mengambil kuliah saya…tapi nanti kalau kamu sudah selesai kuliah lagi…sudah dapatkan gelar doktormu, saya mau gantian kuliah sama kamu ya :)” kata beliau sambil tersenyum. Aahh benar-benar saya diberkahi dosen-dosen yang berhati mulia🙂

Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (7)

Sumber : Note Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D


  1. 1 Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik (5) | enkripsi

    […] Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (6) […]

    Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: