Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik (7)


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

data=U4aSnIyhBFNIJ3A8fCzUmaVIwyWq6RtIfB4QKiGq_w,qkbnlcaO1LzhP82I9Xof1mJ5pC5BAKsDiQ0WvP-jmeqtTDWbO8yar24Ay44WDlJrH9Ph_ueqIdil7zkZBO0p7ryw69-rhZh8hW2qazp_hkg6hCoSetelah lama terhenti, akhirnya saya sempatkan melanjutkan tulisan berseri Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik yang sudah sampai seri ke 7 ini (kok kayak sinetron aja yah…) dan tidak diduga-duga, ternyata cerita ini saya tulis dari ruangan saya yang baru. Ya dari ruang pengajar saya yang baru, di Nagoya University. Alhamdulillah, mulai Februari 2014 ini saya ditunjuk menjadi Associate Professor (designated) di sini. Tentunya makin banyak Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik yang bisa saya ceritakan nantinya, insyaAllah::

Saya lanjutkan yah…

Akhirnya saya menyelesaikan skripsi S1 saya di bawah bimbingan Prof. I Ketut Surajaya dengan judul Pengaruh Pengaruh Shushigaku di Zaman Edo: Telaah Pengaruh Pemikiran Hayashi Razan pada Sistem Politik dan Struktur Masyarakat Feodal Zaman Edo Awal dengan lancar dan mendapat nilai yang cukup memuaskan (A gitu lho). IPK yang saya dapatkan pun tidaklah terlalu jelek…cukup untuk mengambil hadiah sebesar 1 juta rupiah di rektorat (karena waktu itu kalau IPK wisudawan cumlaude akan mendapat hadiah 1 juta rupiah) dan cukup membawa saya untuk tidak hanya berdiri ketika dipanggi sebagai wisudawan cumlaude tapi naik ke podium untuk menerima piagam penghargaan dari rektor. Ya, piagam itu piagam untuk lulusan terbaik se fakultas dalam angkatan lulusan waktu itu. Prestasi yang tidak buruk untuk mahasiswa yang menggantungkan kuliahnya pada beasiswa.

oiya, metadata skripsi saya ada di sini: http://lontar.ui.ac.id/file?file=pdf/metadata-20157938.pdf )

btw, istri saya juga sama lho, mendapatkan hadiah 1 juta juga pada waktu lulus krn termasuk lulusan cumlaude. Jadi itu ibu rumahtangga yang melahirkan dan ngurusi anak-anak saya itu bukan ibu rumahtangga sembarangan. Lulusan cumlaude UI…

Saya lupa wisuda waktu itu bulan apa, yg saya ingat adalah pada bulan maret, saya mendapatkan sebuah paket surat dari Jepang via EMS. Meski sebelum itu saya juga mendapatkan paket-paket surat dari Jepang berupa ajakan dan penawaran untuk kuliah pasca sarjana di berbagai universitas, tapi yang ini berbeda. Kali ini yang saya terima adalah formulir pendaftaran beasiswa Monbusho tipe University to University yang dikirim oleh Prof. Nakamura ke saya.

Ketika saya pulang dari Nagoya dulu, antara saya dan Prof. Nakamura hanya sepakat satu janji saja. Saya akan memberitahu beliau kalau saya sudah akan lulus dan beliau akan mengirimkan surat-surat berkas beasiswa untuk saya. Itu thok…ndak pakai tandatangan di atas materai segala. Janji saja…

Ternyata janji itu ditepati…beberapa saat setelah saya pastikan lolos sidang skripsi, saya kabarkan kelulusan itu kepada Prof. Nakamura. Beliau waktu itu tidak membalas email saya (mungkin sibuk…) Tapi balasan yang saya dapatkan adalah satu berkas beasiswa.

Saking kagetnya, saya bingung harus bagaimana saya temui salah satu dosen yang cukup dekat waktu itu, yaitu pak Bambang Wibawarta.

“Jadi gimana sensei enaknya…?”, kata saya.

“Ya harus kamu ambil ini…ini sensei yg di sananya baik ini….mau untuk memperjuangkan kamu…ambil saja”, jawabnya.

“Ok siap…sy isi formnya…nanti research proposalnya saya konsultasikan ke sensei ya…”

“Iya silahkan”.

Ngebut akhirnya saya lengkapi berkas-berkas yang saya butuhkan untuk formulir itu dan termasuk proposal studi saya.

Oiya, program beasiswa Monbusho itu biasanya kan ujian di kedutaan Jepang di Jakarta kan yah…itu yang program G to G (Government to Government). Tapi yang saya tempuh adalah program U to U (University to University). Bedanya, program U to U tidak membutuhkan ujian saringan beasiswa lagi. Artinya cukup rekomendasi dan data-data diri kita lah yang akan ditandingkan dengan kandidat-kandidat lain, dan hasilnya langsung ketahuan: Diterima atau tidak. Saya sebenarnya tahu program ini juga setelah saya telpon beberapa kali pak Bambang Wibawarta selama saya di Nagoya dulu dan baru tahu ada program seperti ini.

Akhirnya setelah selesai dilengkapi, dikirim, dimulailah masa-masa galau menunggu hasil (biasanya begitu bukan?) Tapi saya beda. Saya sebenarnya malah lupa sudah ngirim formulir itu. Saya hanya mengisi aktifitas sehari-hari saya untuk mengajar les dan mengajar di sebuah politeknik rukoan di Ciputat. Yaah cukuplah untuk mengulur nyawa. Selain itu saya juga sering dapat order untuk menjadi penerjemah lisan. Lumayan lah. Pernah satu proyek dua hari lamanya saya bisa mengantongi 1,5 juta…itu di luar ongkos transpor dan makan saya di hotel Peninsula dan di beberapa restoran mahal karena nemenin tamu (hehehe…soalnya dibayarin mereka).

Saking lupanya saya sudah mengirimkan formulir beasiswa, saya juga ikut-ikut mengambil formulir masuk pasca sarjana di UI pula waktu itu (sudah bayar pendaftaran pula…nyesel).

Nah tepat seminggu sebelum hari ujian masuk pasca UI itulah, karena suntuk di kontrakan akhirnya saya nge-bolang di Margonda dan iseng masuk warnet dan ngecek email. Ternyata, beberapa hari sebelum hari itu, Prof. Nakamura mengirimkan email ke saya dengan kalimat: Omedetou gozaimasu. Andy san ha kokuhi ryugakusei toshite saiyou saremashita. gojitsu, shiryou ga okuraremasunode, kakunin shite kudasai. Hiroshima ni koreru koto wo tanoshimi ni shite imasu. (Selamat, Andy diterima sebagai mahasiswa beasiswa negara. Nanti bbrp hari lagi akan ada berkas-berkas yang dikirim ke rumah, silahkan di periksa, Saya tunggu kedatangannya di Hiroshima)

Siapa yang ndak bungah coba…

btw kenapa saya ngotot harus sekolah dan nyari beasiswa?

Alasannya mudah. Saya merasa bahwa diri saya ndak cocok untuk kerja kantoran, ngetik-ngetik surat (padahal jadi dosen juga ngerjain itu sebagiannya) dan meeting dsbnya. Saya merasa diri saya lebih cocok untuk berpikir bebas tidak terkungkung. Saya bebas mengeksplorasi apa yang saya inginkan. Tapi di sisi lain, saya ingin mengembalikan uang yang pernah saya pakai untuk keperluan-keperluan saya sekolah. Dua hal ini menggelayuti pikiran saya dan akhirnya saya melihat bahwa skeolah lagi dengan beasiswa adalah satu-satunya jalan keluar yang harus saya tempuh.

Saya sekolah hingga pasca sarjana, sampai jenjang sekolah itu habis bukan karena mengejar gelar, mengejar gaji tinggi, atau yang lainnya, insyaAllah bukan itu. Tapi yang saya cari adalah aktualisasi diri yang paling tepat untuk saya. Dan alhamdulillah itu yang diberikan oleh Allah ta’ala…aktualisasi diri yang tepat dan rejeki untuk mengembalikan uang-uang yang pernah saya pakai untuk sekolah dari orangtua.

Bagian berikutnya nanti saya ceritakan apa tantangan besar belajar di Jepang waktu itu bagi saya….

Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (8)

Sumber : Note Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D


  1. Ijin share ya bang,,,
    Saya pembaca lama dari blog ini.

    Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: