Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik (8)


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

imagesSuatu ketika di Nagoya ini saya berbincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program doktor…ya sambil berdiskusi dengan menyusuri jalanan kampus…

Diskusi itu akhirnya terputus-putus ketika saya berkata:

“Sudah baca bukunya Paul Ormerod kan pak?”

“belum…”

“Kalau buku-bukunya Francis Fukuyama?”

“belum juga…”

“Derida? Foucault?”

“Belum…”

“Hm…kalau mendalami ilmu sosial setidaknya buku-buku dasar musti dibaca pak…biar wawasannya lebih luas…”

Ya…

Sebenarnya bukan salah si Bapak, bahkan saya salut dengan kejujurannya belum baca buku-buku yang saya sebutkan.

Sama sebenarnya..itulah kendala yang saya hadapi (dan mungkin sebagian mahasiswa Indonesia yang lainnya…kecuali yang memang pinter-pinter) yaitu memperbanyak bacaan terutama bacaan mutakhir. Ada kalanya tersandung masalah fasilitas…adakalanya tersandung masalah malas…

Saya berangkat ke Hiroshima pada bulan Oktober 2004, beberapa bulan setelah saya menyelesaikan program sarjana saya. Tetapi, saya di Hiroshima University tidak langsung masuk ke program, melainkan masuk dengan status Research Student. Ini status yang memang diberikan oleh pemerintah Jepang kepada mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah di Jepang tapi dari luar Jepang. Mereka tetap harus mengikuti seleksi masuk pasca sarjana….bersaing dengan orang-orang lain yang mungkin adalah mahasiswa-mahasiswa pilihan masing-masing profesor di suatu universitas yang diharapkan bisa menjadi anak didik penerus ilmu mereka.

Begitu pula saya…ujian saya bulan Februari. Mulai bulan Oktober hingga Februari itu selain saya mengikuti perkuliahan profesor saya, saya mengikuti beberapa kuliah lain sebagai mahasiswa pendengar sambil belajar untuk ujian masuk pasca.

Apa yang membuat saya terperangah dan merasa terbentur pada dinding adalah ketika saya pertama kali masuk mengikuti kuliah sensei (profesor) saya. Nama mata kuliahnya Special Lecture on Japanese Intellectual History. Yang datang mahasiswa Jepang semua…dan itupun jumlahnya tidak banyak. Hari itu sensei saya hanya memberi pengarahan awal dan menginformasikan buku yang akan dipakai. Waktu itu, yang diajukan oleh sensei saya adalah: Jreng jreng….Bunmeiron no Gairyaku karya Fukuzawa Yukichi. Buku ini bagi orang-orang yang studi Jepang tentunya tahu…tapi banyak yang hanya tahu namanya.

Buku itu ditulis pada tahun 1877 tentunya dengan menggunakan bahasa Jepang waktu itu. Skripsi saya menggunakan bahan kajian naskah yang terbit tahun 1600….bahasa keduanya sangat-sangat berbeda. Perbedaan itu bukan hanya pada kalimat (tata bahasa) tetapi yang lebih jauh dari itu adalah pada konsep yang dikandung oleh kalimat. Saya beri contoh:

Pada naskah-naskah tahun 1600 terutama naskah yang terkait dengan pemikiran politik, kata 経典 akan dibaca kei-ten yang artinya 4 teks utama konfusianisme. Tapi, berbeda bila saya baca di teks sebelum atau sesudahnya, kata 経典 bisa dibaca kyo-ten yang artinya sutra Budha. Dari mana saya membedakannya? Dari konteks sehingga bila pada satu titik saya mengalami kebutaan pemahaman, saya harus ulang lagi bacaan saya dari awal bab untuk bisa memahami isi naskah.

Belum lagi di awal tahun 1800 (yang merupakan masa awal modernisasi Jepang), muncul begitu banyak kosakata baru. Misalnya 理性. Kata ini dibacanya Risei, yang bila muncul dalam teks tahun 1600-1800 akan bermakna (kurang lebih) takdir yang ada di dalam suatu benda yang menjadi fungsi utamanya. Misalnya 理 yang ada dalam air adalah mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Di bacaan-bacaan setelah 1800, 理性 bermakna logika. Nah beda sekali kan?

Masih banyak lagi…ratusan kata-kata yang membuat pening.

Dan metode mengajar sensei saya adalah klasik. Beliau meminta setiap mahasiswa (karena sudah pasca) menelaah jatah bab masing-masing kemudian didiskusikan bersama. Nah yang keren adalah dalam memaparkankan masing-masing bab itu sensei saya menambahi keterangan bisa ngambil dari mana saja. Bisa suatu ketika dia menyorot teks klasik lain lagi untuk membandingkannya…bisa suatu ketika dia lompat ke metodologi post modernisme untuk mengkritiknya…bisa dia lompat lagi ke post collonialisme dan seterusnya dan seterusnya…tentu saja bagi mahasiswa yang terbiasa membaca buku banyak akan mudah mengikuti alur pembicaraannya. Tapi bagi saya mahasiswa Indonesia yang baru datang, model belajar seperti ini membuat saya capek. Capek bukan karena tidak paham mendengar apa yang dijelaskan tetapi capek karena saya harus men-switch otak saya begitu cepat dengan berbagai macam konsep yang saya kadang juga belum paham. Akhirnya kadang-kadang saya mlongo saja bingung mau ikut nibrung diskusi kok nyari sela mengungkapkan pendapat susah…kalau ada kesempatan pun kok ya pas ndak bisa nangkap apa yg diributkan…

Akhirnya saya keluhkan hal ini ke sensei saya….beliau berkata: Kamu ndak usah ikut kuliah saya dulu 1 bulan…coba kamu belajar di perpus saja dulu…

Sip, akhirnya saya turuti. Tekad saya dalam satu bulan saya bisa mengejar apa yang kurang dalam belajar. Akhirnya hampir setiap hari (kecuali sabtu minggu) saya di perpustakaan pusat Hiroshima University untuk membaca buku-buku yang ada di rak terutama di rak bagian kajian pemikiran filsafat dan ilmu sosial. Kalau dihitung-hitung kurang lebih saya bisa membaca hampir 8-10 buku sehari dalam berbagai ukuran.

Efek dari kegiatan membaca ini adalah saya lupa untuk menandatangani absen kehadiran bulanan di ruang TU, sehingga beasiswa saya ditunda turunnya satu bulan….(maturnuwun kepada pak Taufik, ketua KMIH yang waktu itu meminjamkan uang ke saya untuk menyambung hidup…)

Hasilnya, ketika masuk lagi ke kuliah sensei saya sebulan setelah itu, sensei saya tersenyum dan setelah melihat saya mampu mengimbangi beliau diskusi beliau kemudian berkata: “Bagus…berarti kamu sebulan ini benar-benar belajar…lanjutkan belajarnya untuk ujian masuk ya…raih nilai yang tinggi”.

Oleh beberapa orang senior, saya dipinjami buku-buku yang dapat digunakan untuk belajar ujian masuk. Ada begitu banyak buku dan lumayan tebal pula…dibaca dibolak balik pun kadang ndak nyantol-nyantol di kepala…

Akhirnya saya saya ingat metode belajar saya ketika pernah meraih nilai 98 untuk nilai biologi di kelas 2 SMA setelah sakit dulu…ya…buku biologi Erlangga yang tebal itu saya hapalkan diluar kepala semua.

Saya terapkan metode itu dan hasilnya, dua buku saya bisa hapalkan isinya…yang satu ada buku dasar-dasar metode penelitian bahasa dan yang satu (yang ini cukup berguna sampai sekarang) adalah Ensiklopedi Ringkas Kesusastraan Jepang…sampai sekarang kalau pas ndilalah diminta mengajar bidang kesusastraan saya masih bisa membuat mahasiswa takjub dengan apa yang saya hapal. Saya cukup mengingat-ingat sedikit tentang suatu karya atau nama atau tahun atau genre atau tipe dan sebagainya…saya bisa menjelaskan hal itu begitu banyak bahkan mengkaitkannya dengan politik, ekonomi, budaya, pemikiran masyarakat pada waktu itu dan sebagainya.

Cara belajar in yang akhirnya menghantar saya bisa masuk ke program pasca dengan nilai tertinggi kedua (menurut bocoran sensei saya) hehehehe. Artinya: Orang Indonesia kalau mau pun bisa!

Oiya, nyambung dengan perpustakaan, selama kuliah di Hiroshima saya juga bekerja sambilan di Perpustakaan. Terakhir saya staf di bagian open access library di bagian pengolahan data…dan kalau pas libur perpus kami menata buku-buku di rak-rak. Hasilnya, selain dapat gaji, sampai sekarang saya insyaAllah masih ingat buku-buku yang berjudul X letaknya di rak sebelah mana…buku Y di sebelah mana…dokumen Z ada di rak bawah tanah sebelah mana dsbnya. (kalau raknya belum diubah lho ya hehehe)

Kelanjutan kisah silahkan klik Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik  (7)

Sumber : Note Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: