Kisah Inspiratif Berbakti Kepada Ibu


Kiriman dari teman Ust. Abdullah Sholeh Hadrami

Malam telah larut dan sebentar lagi pagi akan
datang. Aku masih larut melihat perkembangan
bursa di New York. Dari tadi siang aku malas
membuka email karena melihat perkembangan
pasar yang semakin memburuk. Keliatannya
hari hari kedepan tak ada lagi yang bisa
diharapkan kecuali bertahan dalam situasi
buruk. Teman mengatakan dalam gurauan
kepadaku bahwa ini saatnya kita surfing diatas
gelombang ganas. Lihatlah tak banyak yang bisa
selamat tapi ini tantangan untuk menguji siapa
yang qualified melewati putaran waktu.

SMS datang” sudah baca email dari Kedutaan? Anda
diundang untuk datang menghadap Raja
mereka” saya terkejut. Bersegera saya
membuka email. Benarlah , email ini datang
dari tadi siang. Terbayang upaya hampir
setengah tahun untuk mendapatkan clients
potensial kini peluang terbuka dengan adanya
undangan untuk presentasi. Walau
kemungkinan berhasil masih sangat jauh
namun setidaknya ini titik awal untuk sebuah
harapan. Akupun bersegera membuka file
presentasi untuk mempertajam materi dan
menambah sedikit bahan sesuai hasil riset
mutakhir.

Pagi pagi aku bersama team sudah berada di
Airport untuk terbang memenuhi undangan.
Dijadwalkan ,setiba dibandara aku akan
dijemput oleh asisten kerajaan. Kemudian akan
diantar ke tempat istirahat kerajaan sambil
menunggu jadwal pertemuan khusus dengan
Raja. Setelah pertemuan dengan Raja, maka
keesokan harinya dijadwalkan untuk
menghadiri presentasi dengan pejabat terkait.
Penerbangan first class itu sangat nyaman.
Didalam pesawat aku berusaha membaca
indicator mutakhir ekonomi dan social Negara
yang akan aku kunjungi itu.

Ketika mendarat ,
cuaca cukup cerah. Pejabat yang menjemput
kami nampak tersenyum ramah membawa kami
ke limosine untuk menuju hotel. Sesampai di
Holel Kerajaan, pejabat itu memberikan
kesempatan kami untuk istirahat dan dia
langsung kembali kekantornya. Pejabat itu
berpesan bahwa besok jadwal pertemuanku
dengan Raja. Hanya aku saja tanpa didampingi
team. Jam 7 malam jemputan akan sampai
dihotel untuk acara makan malam jam 8
bersama Raja. Aku mengangguk.

Aku bekerja bersama team sampai mendekati
subuh untuk memantapkan segala persiapan.
Setelah sholat subuh aku memilih untuk
istirahat dan tidur. Begitupula dengan team
lainnya. Sebelum berangkat tidur, telp
cellularku bordering.
“ Pah” suara istriku diseberang.
“ Ya” Aku menangkap ada sesuatu dirumah.
Karena tidak seperti biasanya instriku
menelphone sepagi ini.
“ Papa, tenang aja. “
“ Ya tenang, Ada apa “
“ Bunda, kena serangan jantung ringan.”
“ Sekarang Bunda ada dimana ?
“ Dirumah sakit. Mama dampingi bunda terus.
Kata doctor keadaannya sudah membaik. Papa
tenang aja. Adik adik semua ada disini kumpul.
Bunda dibawah perawatan dokter terbaik. Kita
berdoa aja semoga keadaan bunda semakin
membaik. “
Terkesan bagiku , istri berusaha menenangkan
aku bahwa keadaan bunda baik baik saja tapi
diapun tidak bisa menyembunyikan
kekawatiran akan keadaan bunda. Seusai
menerima telephone itu, batinku mendesakku
untuk segera pulang. Tapi bagaimana dengan
rencana kunjungan ini. Bagaimana perasaan
teamku bila pertemuan ini gagal karena aku
harus segera pulang. Apalagi perjuangan
mendapatkan clients ini sudah berlangsung
lebih dari setengah tahun. Namun hatiku tidak
bisa tenang dengan segala pemikiran tentang
masa depan usahaku. Aku hanya memikirkan
tentang hari ini dimana bunda sedang sakit dan
aku harus ada disampingnya.

“ Apakah itu tidak bisa ditunda lusa saja atau
besok saja setelah kamu bertemu dengan raja”
kata salah satu teamku. Dia dapat memaklumi
sikapku namun dia juga meminta kebijakanku
soal kelangsungan business kami.
“ Ibu saya sakit dan ini tidak sederhana. Aku
tidak bisa memaafkan diriku bila aku sampai
menunda pulang. “ Kataku dengan wajah
bingung. Aku terduduk sambil mengusap
kepala. Bayanganku terus kepada bunda.
“ Tapi bagaimana dengan rencana kita “
“ Maafkan aku…” Kataku menatapkanya dengan
wajah sesal, Berharap teamku dapat
memaklumi. Semua anggota team terdiam.
Akhirnya salah satu dari mereka berkata “
Kamu benar.! Kalau begitu kita putuskan pulang
hari ini. “ Kata mereka dengan tersenyum
seakan berusaha menutupi keadaan posisiku
agar tidak merasa bersalah karena keputusanku
untuk pulang.

Jam 8 pagi aku menelhone pejabat penghubung
kami dengan kerajaan dan menyampaikan
alasan kami untuk pulang.
“ Yang harus anda ketahui bahwa tidak pernah
satu kalipun Raja kami dibatalkan
pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan.
Sikap protokoler istana akan sangat keras. “
“ Mengapa ?“
“ Kamu sudah setuju untuk datang dan kini
mendadak kamu batalkan sepihak karena
alasan yang tidak masuk akal”
“ Ini soal ibu saya.”
Pejabat itu hanya terdiam dengan wajah
terkesan marah.
“ Maafkan kami. Semua akomodasi dan ticket
yang sudah kerajaan keluarkan akan kami
ganti. Ini kesalahan kami dan kami akan
membayar kesalahan itu.” kataku
“ Reputasi anda juga akan hancur” Kata pejabat
itu dengan nada mengancam.
“ Kami sadar akan itu. Sekali lagi maafkan
kami”
Nampak pejabat itu berbicara melalui telp
dengan nada penuh hormat.
“ Tadi barusan saja pangeran berbicara dengan
saya dan ia sangat marah karena pembatalan
pertemuan ini. “ Kata pejabat itu.
“ Apakah aku bisa bicara dengan beliau”
“ Tidak perlu. “ katanya tegas dan kesal.

Aku bersama team berangkat menuju bandara.
Rencananya . aku langsung pulang ke Jakarta.
Sementara teamku kembali ke Hong Kong.
Sesampai dibandara, nampak sekuriti sangat
ketat. Supir taksi yang kami tumpangi
mengatakan bahwa Raja datang ke Bandara.
Kami terpaksa turun agak jauh dari gate
keberangkatan. Ketika aku bersama team
melangkah menuju bandara keberangkatan,
salah satu pejabat yang mengenal kami
bersegera berlari kearah kami. Dengan ramah
pejabat itu berkata” raja ingin bertemu dengan
kamu”. Aku mengangguk dengan melangkah
agak ragu mengikuti pejabat itu keruang VVIP.
Ketika melewati kuridor bandara seorang
petugas mengambil passportku dengan ramah.

Aku terus melangkah dalam perasaan penuh
tanya. Ada apa gerangan ini?. Ketika pintu
ruangan VVIP terbuka, nampak sang Raja
didampingi putra mahkota tersenyum ramah
kearahku. Tanpa sungkan dia memelukku
sambil mencium pipiku.
“ Saya mendengar kabar bahwa ibunda anda
sakit dan anda harus segera pulang. Benarkah
itu ?
“ Maafkan aku ya yang mulia. Bukan
bermaksud tidak menghormati undangan Yang
Mulia tapi keadaan ibu memang memerlukan
kehadiranku disampingnya.”
“ Pulanglah. Urusan dunia ini tidak penting.
Memuliakan ibu adalah memuliakan Allah. Tak
ada ibadah terbaik didunia ini selain berbakti
kepada ibu. Sampaikan salam saya kepada ibu
anda. Doa saya akan menyertainya.” Kata kata
itu meluncur begitu sejuknya. Aku sampai
terharu. DIhadapanku ada seorang raja yang
kaya raya dan dihormati namun tetap lebih
menghormati seorang ibu.
“ Terimakasih ya Yang Mulia”
“ Saya yang harus berterimakasih kepadamu.
Karena lewat peristiwa ini, saya bisa
memberikan pelajaran berharga kepada putra
saya. Bahwa tak penting berapa peluang
business yang akan diraih namun bila saatnya
datang untuk memuliakan orang tua maka
itulah yang lebih diutamakan. ‘ kata Raja itu
sambil menatap kearah putra mahkotanya.

Usai pertemuan itu , aku bersama pejabat
penghubung kerajaan keluar ruangan VVIP
menuju bandara keberangkatan. Pejabat itu
berkata” Yang Mulia Raja meminta anda pulang
dengan jet pribadinya. Sementara team anda
tetap disini untuk melanjutkan pertemuan
dengan pejabat terkait. Raja juga telah
memutuskan untuk memilih perusahaan anda
sebagai mitra kami. Selamat. “

Anggota team saya nampak berlinang air mata
ketika mendengar kata kata itu. “ Bila kita
muliankan ibu maka Allah akan memuliakan
kita. Tentu yang sulit menjadi mudah, yang
sempit menjadi lapang. Anda benar dan kami
percaya sikap anda. “ kata salah satu anggota
team saya sambil memeluk saya.

Ketika sampai di bandara, aku langsung ke
rumah sakit. Setiba dirumah sakit, istriku
sudah menunggu dan membawaku keruangan
bunda dirawat. Kucium kening bunda dan
nampak matanya terbuka, Bunda tersenyum”
Kaukah itu nak ? “
“ Ya , bunda.”
“ Siapa yang bilang bunda sakit. Bunda engga
apa apa.” Bunda menoleh kearah istriku “
Jangan kau ganggu anakku bekerja. Soal begini
tak perlulah dikabarkan. Kau pikir mudah
untuk kembali dari luar negeri ke sini. Lagian
disana dia tidak main main. Dia kerja. “ Bunda
mengomeli istriku.

Itulah bunda, dalam
keadaan apapun beliau tetap tidak ingin
membuat anaknya repot. Andaikan tangannya
masih kokoh, langkahnya masih kuat itu akan
selalu digunakannya untuk membimbing anak
anaknya melangkah tegar dalam ketertatihan.
Senandungnya akan terus terdengar mengantar
anaknya tidur bahwa besok akan selalu baik
baik saja, dan bunda akan selalu ada
disampingmu, nak…

Dubai..

via fb Ust. Abdullah Sholeh Alhadrami


  1. Amin ya rabbalalamin,maafkan bila saya tidak bisa membahagiakan Ibunda,semoga cerita ini menjadi awal kita untuk selalu menghormati Ibu.

    Like

    • amin, semoga kita dimudahkan dalam berbakti kepada ibu kita, dan ibu kita mendapat balasan surga firdaus di akherat kelak🙂

      Like




Silahkan tinggalkan komentar disini :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: