Ulama Madinah Keturunan Indonesia


Ulama Madinah yang Ayahnya berdarah Lampung dan Ibunya berdarah Semarang

PROFIL PROF. DR. ANIS THOHIR JAMAL AL-INDUNISI

Tak kenal maka tak sayang.

Aqiidah.. aqiidah… aqiidah…. Prioritaskan aqidah..

Kata-kata itu tak pernah lepas dari lisan beliau bila bertemu dengan kami.

Setiap ada buku maupun risalah baru yang berkaitan dengan masaalah aqidah beliau tak lupa berbagi dengan kami dan kawan lainnya yang biasa hadir dimajelis beliau.

Namun setiap kali giliran saya menerima buku, tak lupa beliau berpesan, “negerimu membutuhkan ini”. Syaikh -hafidzahullah- memang memberi perhatian lebih terhadap masaalah akidah. Bila sudah berbicara masaalah aqidah beliau -hafidzahullah- tak suka neko-neko. Kalau sebagian pengajar di masjid nabawi lebih sering menggunakan kinayah saat menyindir agama syi’ah, maka syaikh -hafidzahullah- memilih untuk terang-terangan tanpa sedikitpun rasa takut. Padahal tak sedikit syiah yang berkeliaran di masjid nabawi, hal itu tentunya mengancam keselamatan syaikh.Keberanian itulah yang membuat beliau berbeda.

Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily bahkan pernah mengungkapkan kekagumannya pada syaikh Anis. Syaikh Ibrahim mengatakan,

“Dalam beberapa mawaaqif aku tak pernah melihat orang yang ghirahnya terhadap sunnah seperti beliau. Aku tak pernah melihat orang yang lebih berani terang-terangan dalam persoalan aqidah seperti beliau. Jujur, aku tidak bisa seberani itu.”

Soal keberanian dalam menyampaikan yang hak, Syaikh Anis selalu mengatakan, “Untuk apa takut. Rasa takut tak akan menambah umur atau mempercepat kematian. Akhir cerita dari orang yang berani dan orang yang takut adalah terkubur dibawah tanah yang sama”.

Sisi lain yang saya kagumi dari Syaikh adalah sikapnya yang selalu terbuka dan apa adanya. Akhlaknya bukan akhlak yang basa-basi, yang kadang muncul pada satu keadaan namun hilang pada keadaan yang lain. Di majelis ataupun dimana saja beliau menyempatkan diri untuk bersenda gurau disertai sedikit tawa untuk menyegarkan suasana. Meskipun demikian, kewibawaannya tetap terpancar dalam performa yang luhur. Disinilah keunikan beliau. Kepribadiannya dibentuk oleh ilmu yang dimilikinya, sama sekali tidak dibuat-buat. Itulah yang membuatnya berbeda.

Berikut ini adalah biografi ringakas Prof. DR. Anis Thahir Al Andunisy -hafidzahullah-

Prof. DR. Anis Thahir dilahirkan di Makkah Al-Mukarramah pada tanggal 1 Rajab 1378 H. Beliau merupakan anak seorang perantau asal Indonesia -Ayah berdarah lampung ibu berdarah Semarang jawa tengah- yang telah bermukim di kota Makkah.

Di tempat kelahirannya itu beliau menghabiskan masa kecilnya untuk menuntut ilmu di majelis para ulama. Masa-masa itulah yang kemudian terus membekas dalam ingatannya, sehingga tak jarang beliau menceritakannya potongan demi potongan kisah itu kepada kami.

Peranan Orang Tua,

Sejak dulu kesuksesan salafussholeh tak lepas dari peran orang tua yang selalu berada dibalik kesuksesan tersebut, tentunya setelah taufiq dari Allah azza wa jalla. Begitupula dengan syaikh. Kedua orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan buah hatinya sejak kecil, terutama sang ibu. Dalam beberapa majelis beliau menceritakan pada kami tentang perhatian ibunya yang begitu besar semasa beliau menuntut ilmu dulu.

Rihlah Dalam Menuntut Ilmu,

Memasuki usia remaja beliau melanjutkan perjalanannya dalam menuntut ilmu ke tanah hijrah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Madinah An-Nabawiyah. Disana beliau bertemu dengan banyak ulama dari berbagai negara. Untuk pendidikan formal pilihannya jatuh pada Islamic University of Madinah. Di almamaternya ini beliau berhasil menyelesaikan program S1, S2, hingga S3 di bidang As-Sunnah. Desertasi doktoralnya meraih peringkat summa cumlaude. Dosen pembimbingnya kala itu adalah seorang pakar hadits di kota Madinah, As-Syaikh Al Allamah Hammad bin Muhammad Al Anshary -rahimahullah-.

Sejak menjadi mahasiswa bimbingan syaikh Hammad Al-Anshary kedekatan diantara keduanya -sebagai guru dan murid- terus berlanjut hingga Syaikh Hammad meninggal dunia pada hari Rabu 21 Jumadil Akhir 1418 H. S
elama dalam bimbingan Syaikh Hammad, Syaikh Anis tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk meraih sebanyak-banyaknya faidah ilmu dari sang dosen yang sekaligus sebagai pembimbingnya itu. Masa-masa bersama inilah yang terus dikenang syaikh dalam majelisnya. Bahkan dari semua gurunya, syaikh Hammadlah yang paling banyak memberikan kontribusi dalam hal pembentukan syakhsiyah ilmiah beliau.

Pada akhir tahun 1433 H yang lalu Syaikh Anis ditetapkan sebagai guru besar dibidang ilmu hadits. Kini disela-sela kesibukannya sebagai dosen dan pengajar di masjid nabawi, beliau juga aktif sebagai anggota pada beberapa lembaga pengkajian di dalam dan luar kampus yang berkonsentrasi dibidang As-Sunnah. Beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada seminar-seminar umum yang diadakan baik di dalam maupun diluar negeri.

Guru-guru beliau.

Seorang penuntut ilmu hendaknya menimba ilmu secara langsung dari para ulama. Hal ini sudah menjadi tradisi dikalangan salafussholeh. Bagi mereka belajar tanpa guru sangat dekat dengan kesesatan, mereka bahkan menilainya aib. Sebagian diantara mereka melarang para muridnya untuk menimba ilmu dari oang yang menjadikan buku sebagai gurunya. Berguru pada ulama besar itulah yang dilakukan syaikh sebagaimana pendahulunya. Diantara guru-guru beliau adalah:

Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshary -rahimahullah-
Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany -rahimahullah-
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Banna -hafidzahullah-
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin -rahimahullah-
Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad -hafidzahullah-
Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairy -hafidzahullah-
Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar As-Syinqity -rahimahullah-
Syaikh Abdul Fattah Ibrahim Salamah
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy -rahimahullah-
Syaikh Abdul Fattah Al Mirshafy
Syaikh Abdul Qadir As-Sindy
Syaikh Muhammad Aman Al-Jaamy -rahimahullah-
Syaikh Ali Abdurrahman Al-Hudzaify -hafidzahullah-
Dan masih banyak lagi.

Beliau juga mendapatkan banyak Ijazah dari ulama-ulama ternama dalam berbagai disiplin ilmu.

Satu hal lagi yang membuat kami terkesima dengan akhlak beliau, adalah sifatnya yang sangat menghormati guru-gurunya. Bahkan pada awal-awal ditetapkan sebagai pengajar di masjid nabawi beliau merasa tidak pantas untuk duduk menyampaikan ilmu di masjid itu disaat guru-guru beliau sedang memberi pelajaran, apalagi bila waktunya bersamaan. Beliau pernah berkata, “Semoga Allah mengampuni kelancangan ini, sejujurnya kami tidak pantas duduk diatas kursi ini disaat guru-guru kami juga duduk pada kursi yang sama di majelis yang lain, sungguh ini sebuah kelancangan”

Karya tulis beliau:

Beliau -hafidzahullah- termasuk dosen yang produktif dalam menghasilakan berbagai karya baik dalam bentuk buku atau risalah kecil berupa makalah ilmiah.
Diantara karya tulis beliau adalah:

1. Dhawabit Muhimmah lihusni fahmi as-sunnah
2. At-Tadzkir bisunan al-mahjuurah
3. Nubdzah Mukhtasharoh an as-sunnah al-muthahharah.
4. Shahih Syamail Al Muhammadiyah.
5. Takhrij Hadits Thala’al badru alaina.
6. Hadyunnabi fi khutbatil jumu’ah
7. Mustakhraj At Thusy ala jami’ At Tirmidzy.
8. Al Bayan wa at-tafshil fidirasah al kutub al jarh wa at-ta’dil. Dan masih banyak lagi, sebagian telah dicetak dan sebagian lagi belum dicetak.

Syaikh hafidzahullah sangat mencintai dunia tahqiq, hampir seluruhl karyanya dibidang tahqiq, baik tahqiq masaail ataupun tahqiq manuskrip.

Diantara Ucapan Beliau:

“Penisbatan kita terhadap salafussholeh tidak akan berarti apa-apa jika mereka para salafussholeh berada di satu lembah, sementara kit yang mengaku pengikut salaf berada di lebah yang lain.”

“Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu kepada pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja”.

Pada kesempatan yang lain beliau berkata:

“Innalillah…. Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh dalam memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya”

“Sebagian orang menganggap bahwa
kewibawaan itu dengan bermuka masam.. Ketahuilah… manusia yang paling mulia dan paling berwibawa selalu menyebarkan senyum dan salam pada siapa saja”

Semoga Allah senantiasa menjaga syaikh -hafidzahullah-

*Dikirim oleh Hans Abu Hudzaifah via grup WA komunitas ihya’…




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: