TARBIYAH HATI ~Tentang Ketawadhuan~


 

Oleh Ustadz Aan Candra Thalib حفظه الله تعالى

Di majelis Prof. DR. Dhiyaurrahman Al-A’Dzamy, pria yang tak asing itu selalu datang sebelum pelajaran dimulai. Sama seperti pelajar lainnya, ia tak punya tempat duduk khusus, ia duduk dimana saja selama tempat itu kosong sekalipun di ujung majelis. Tanpa misylah (baju kebesaran) dan tanpa pengawalan.
Ia duduk dan menyimak dengan baik pelajaran yang disampaikan serta mencatat setiap fawaid yang disebutkan oleh syaikh Al-A’Dzamy. Sayapun berguman, “Bila orang dengan jabatan setinggi beliau masih mau duduk di majelis ilmu, lalu bagaimana dengan kita…?
Iya, dialah Syaikh Ahmad Thalib Humaid -hafidzahullah-, imam Masjid Nabawi yang masyhur dengan bacaan Hijazinya.

Di tempat lain saya mendapati seorang dosen ternama sering terlihat duduk menyimak pelajaran Syaikh Anis, Syaikh Ibrahim dan Syaikh Sholeh As-Sindi. Kebiasaan itu dilakukannya bila kajian Syaikh Abdul Muhsin libur. Ia seperti tak lelah dalam bermajelis.
Dialah Syaikh DR. Abdurrahman Abdullathif Ar-Rusyaidan, qori’ tetap Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr.

Pada musim haji 1434 H, Syaikh Prof. DR. Abdul Karim Al-Khudair membuka majelis Shahih Muslim di masjid nabawi. Majelis itu berlangsung di kursi yang biasa dipakai Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad menyampaikan kuliah umum.
Saat itu Syaikh Abdul Muhsin baru saja menutup majelisnya yang berlangsung antara maghrib dan isya. Selepas sholat isya syaikh Abdul Muhsin tak beranjak pergi. Diatas kursi roda beliau duduk menyimak pelajaran yang disampaikan Prof. Abdul Karim dengan seksama. Padahal Syaikh Abdul Muhsin jauh lebih senior bila dilihat dari sisi usia dan ilmu dibanding Syaikh Prof. DR. Abdul Karim.

حفظهما الله ورفع الله فدرهما فى الدنيا و الاخرة

Pemandangan-pemandangan diatas mengajari kita banyak hal. Diantaranya tentang arti pentingnya ketawadhuan dalam menuntut ilmu.
Karena aliran ilmu hanya akan menempati cawan-cawan hati yang menunduk, bukan yang meninggi.

Ia juga mengajari kita tentang bagaimana mengasah jiwa agar berani melawan ego yang selalu mendorong diri agar merasa cukup dan merasa sudah besar.
“Saya sudah senior, saya sudah belajar, saya seorang dosen, saya seorang ustadz, saya lulusan timur tengah, saya tak butuh belajar pada orang lain.”
Padahal tak ada kata usai dalam belajar. Karena ilmu tak ada habisnya. Semakin kita menyelam jauh, semakin kita sadar bahwa masih banyak yang tidak kita ketahui.
Kadang apa yang tidak kita temukan di lautan luas, kita dapati di sungai yang dangkal.

Saya teringat bait-bait syair ketawadhuan yang disebutkan Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’. Beliau berkata:

العلم بحر منتهاه يبعد # ليس له حد إليه يقصد
وليس كل العلم قد حويته # أجل ولا العشر ولو أحصيته
وما بقى عليك منه أكثر # مما علمت والجواد يعثر
فكن لما سمعته مستفهما # إن أنت لا تفهم منه الكلما
القول قولان فقول تعقله # وآخر تسمعه فتجهله
وكل قول فله جواب # يجمعه الباطل والصواب
وللكلام أول وآخر # فافهمهما والذهن منك حاضر
لا تدفع القول ولا ترده # حتى يؤديك إلى ما بعده
فربما أعيي ذوي الفضائل # جواب ما يلقى من المسائل
فيمسكوا بالصمت عن جوابه # عند اعتراض الشك في صوابه
ولو يكون القول في القياس # من فضة بيضاء عند الناس
إذا لكان الصمت من خير الذهب # فافهم هداك الله آداب الطلب

Semoga Allah membimbing hati kita dan mengaruniakan taufiq kepada kita semua.

Via telegram bbg-alilmu.com




    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: