Buku Islam Perjalanan Para Ulama Menuntut Ilmu


perjalanan-para-ulama-menuntut-ilmu

Buku Islam Perjalanan Para Ulama Menuntut Ilmu-Ilmu syar’i didapat dengan mencurahkan segenap kemampuan unruk meraihnya, tidak hanya bersantai saja (duduk manis semata). Lihatlah para ulama yang menorehkan tinta emas, perjuangan mereka sangat pantas untuk diabadikan! Sudah menjadi perkara yang maklum bagi mereka, bila harus menghabiskan waktunya berhari-hari dalam rangka rihlah mencari satu hadits. Ini bukan dongeng, tapi nyata!

Lihatlah Mereka …

Lihatah … Imam Baqi bin Makhlad yang melakukan rihlah dua kali; dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun berturut-turut . (Tadzkiratul Huffadz, 2/630)

Lihatlah … Khalaf bin Hisyam al-Asadi berkata, “Saya mendapatkan kesulitan dalam salah satu bab di kitab Nahwu. Maka saya mengeluarkan 80.000 dirham hingga saya bisa menguasainya.” (Ma’rifatul Qurra’ al-Kibar, adz-Dzahabi, 1/209)

Lihatlah … Apa yang diiperbuat Yahya bin Ma’in (beliau memilki seorang ayah yang bekerja sebagai sekretaris bagi Abdullah bin Malik. Ketika wafat, ayahnya mewariskan 100.000 Dirham untuk Yahya). Dan ketahuilah, bahwa Yahya bin Ma’in membelanjakan semua waisan ayahnya untuk belajar hadits, tidak ada yang tersisa kecuali sandal yang bisa ia pakai. (Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar, 11/282)

Andaikan kita, tentu sudah dibelanjakan untuk membeli motor sekelas Ni**ja.

Lihatlah … Ali bin Ashim yang pernah bercerita, “Ayahku memberiku 100.000 Dirham dan berkata kepadaku: ‘Pergilah (untuk belajar hadits) dan saya tidak mau melihat wajahmu kecuali kamu pulang membawa 100.000 hadits.’” (Tadzkiratul Huffadz, adz-Dzahabi, 1/317).

Inilah potret ayah yang super! Bagaimana dengan Anda?

Lihatlah …. Imam asy-Syafi’i yang pernah berkata, “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya mengajari saya. Saya mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.” (Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhilihi, Ibnu ‘Abdil Barr, 1/98).

Imam asy-Syafi’i tidak malu untuk berdikari (wiraswasta), dalam rangka membiayai sekolahnya, lalu Anda?

Lihatlah pula … cerita dari Salim ar-Razy yang menceritakan, “Adalah Syaikh Hamid al-Isfirayaini pada awalnya bekerja sebagai penjaga (satpam) di sebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu di tempat jaganya karena terlalu fakir dan tidak mampu membeli minyak tanah untuk lampunya. Beliau makan dari gajinya sebagai penjaga.” (Thabaqatus Syafi’iyah al-Kubra, Tajuddin as-Subki, 4/61).

Bagaimana dengan Anda, dikemanakan gaji Anda selama ini? Membeli gadget baru, baju baru, atau … ? (Disarikan dari muslim.or.id/18868)

 

Buku dapat dibeli secara online dmelalui link berikut

https://nikimura.com/products-page/buku/buku-islam-perjalanan-para-ulama-menuntut-ilmu

Advertisements



    Silahkan tinggalkan komentar disini :)

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: