_Suatu Masa, Ketika Islam Menjadi Adidaya _

Penyerahan kunci Istana Al-Hamra oleh Sultan Muhammad As-Shaghir kepada Raja Ferdinand dan Isabella pada 2 January 1492 M menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Itu artinya, secara politik islam sama sekali tidak memiliki hak terhadap Spanyol.

Namun berakhirnya kekuasaan islam di Spanyol tidak serta merta mengakhiri kisah kaum muslimin di negeri itu, penyerahan kekuasaan justru merupakan awal dari sejarah kelam kaum muslimin disana. Piagam Granada yang menjanjikan kebebasan beragama bagi kaum muslimin rupanya tidak berumur panjang. Pada tahun 1502 umat islam diberi dua opsi, mameluk Kristen atau pergi meninggalkan bumi Spanyol. Artinya, menetap di Spanyol dengan tetap memeluk agama islam sama artinya dengan bunuh diri. Banyak kaum muslimin yang memilih meninggalkan Spanyol, namun tidak sedikit yang memilih pindah agama secara dzohir, namun tetap beribadah secara islami dengan sembunyi-sembunyi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum Moriscos. Continue Reading »


Kiriman dari teman Ust. Abdullah Sholeh Hadrami

Malam telah larut dan sebentar lagi pagi akan
datang. Aku masih larut melihat perkembangan
bursa di New York. Dari tadi siang aku malas
membuka email karena melihat perkembangan
pasar yang semakin memburuk. Keliatannya
hari hari kedepan tak ada lagi yang bisa
diharapkan kecuali bertahan dalam situasi
buruk. Teman mengatakan dalam gurauan
kepadaku bahwa ini saatnya kita surfing diatas
gelombang ganas. Lihatlah tak banyak yang bisa
selamat tapi ini tantangan untuk menguji siapa
yang qualified melewati putaran waktu. Continue Reading »


Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya. Continue Reading »


Di dalam buku hariannya Sulthon Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.
Sultan berkata kepada kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak.
Diantara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan dimalam hari dengan cara menyamar.

Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka disebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namhn setiap orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Continue Reading »


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

imagesSuatu ketika di Nagoya ini saya berbincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program doktor…ya sambil berdiskusi dengan menyusuri jalanan kampus…

Diskusi itu akhirnya terputus-putus ketika saya berkata:

“Sudah baca bukunya Paul Ormerod kan pak?”

“belum…”

“Kalau buku-bukunya Francis Fukuyama?” Continue Reading »


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

data=U4aSnIyhBFNIJ3A8fCzUmaVIwyWq6RtIfB4QKiGq_w,qkbnlcaO1LzhP82I9Xof1mJ5pC5BAKsDiQ0WvP-jmeqtTDWbO8yar24Ay44WDlJrH9Ph_ueqIdil7zkZBO0p7ryw69-rhZh8hW2qazp_hkg6hCoSetelah lama terhenti, akhirnya saya sempatkan melanjutkan tulisan berseri Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik yang sudah sampai seri ke 7 ini (kok kayak sinetron aja yah…) dan tidak diduga-duga, ternyata cerita ini saya tulis dari ruangan saya yang baru. Ya dari ruang pengajar saya yang baru, di Nagoya University. Alhamdulillah, mulai Februari 2014 ini saya ditunjuk menjadi Associate Professor (designated) di sini. Tentunya makin banyak Sisi Lain Sebuah Perjalanan Akademik yang bisa saya ceritakan nantinya, insyaAllah::

Saya lanjutkan yah…
Continue Reading »


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

jabattanganSebulan setelah pertemuan saya dengan Prof. Nakamura saya kembali lagi ke Indonesia, dan tanpa ba-bi-bu lagi saya segera menghadap kaprogdi Sastra Jepang UI pada waktu itu ibu Lea Santiar untuk mengajukan penulisan skripsi. Yah, selain mengajukan itu saya ceritakan pula bahwa ada tawaran dari Prof. Nakamura untuk melanjutkan studi di Hiroshima nantinya dengan dapat dibantu apabila saya ada masalah dalam berbagai hal yang terkait dengan akademik nantinya.

“Tema skripsi kamu apa?”
Continue Reading »


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

a“Mamonaku Hiroshima….Hiroshima desu…”

Begitulah suara pemberitahuan di dalam kereta super expres Shinkansen yang saya naiki dari Nagoya ke Hiroshima. Ya…saya dalam perjalanan menuju Hiroshima dalam rangka memenuhi undangan Prof. Nakamura untuk datang ke Hiroshima University. Saya “babar blas” (sama sekali) belum pernah ke Hiroshima, apalagi ke Hiroshima University. Saya hanya berpandu pada secarik kertas urek-urekan yang berisi arah perjalanan dari Stasiun Hiroshima ke kampus Hiroshima University yang saya tulis dengan tergesa-gesa sebelum saya berangkat tadi pagi. Berangkat dari Nagoya sekitar jam 8 pagi, dengan harapan saya bisa sampai di Hiroshima University setelah jam makan siang. Benar-benar perjalanan yang penuh rasa deg-degan….
Continue Reading »


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

aAkhirnya, bulan September 2002 saya berangkat ke Nagoya Jepang. Bayangan akan belajar di sebuah universitas di Jepang yang akan memberi saya pengalaman berbeda dengan di Indonesia membuat saya semakin bersemangat. Berbekal tiket gratis dan uang saku gratis :P

Sampai di sini, tentu saja nggak ada yang membayangkan anak seorang pedangan biasa di sebuah kota kecil di daerah bisa KULIAH…iya KULIAH di luar negeri. Bukan untuk jalan-jalan tetapi untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, sesampainya saya di Nagoya, yang ada dipikiran saya adalah saya mengambil sebanyak mungkin apa-apa yang tidak mungkin saya dapatkan selama belajar di Indonesia…apa itu? Oleh-oleh? Barang elektronik? wooo bukan Brow…tapi ilmu yang akan saya pelajari dan saya bawa pulang ke Indonesia lagi. Continue Reading »


Kisah Prof. Andy Bangkit Setiawan, M.A., Ph.D

1_sakura-sakura__494_x_370_Tahun 1999 ketika saya masuk UI, kondisi UI sedang pembenahan sehingga salah satu efeknya adalah munculnya dana DPKP yang selangit jumlahnya itu. Akan tetapi, rupanya program penyedotan dana ini tidak dibarengi sistem yang dapat memberikan solusi ketika terjadi stagnasi. Misalnya ketika ada mahasiswa yang tidak mampu, maka semua seleksi boleh tidaknya mahasiswa tersebut mendapat keringanan SPP dan lain-lainnya masih tersentral di rektorat. Continue Reading »

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,705 other followers

%d bloggers like this: