Perjalanan isra’ mi’raj menempatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di kedudukan yang tinggi. Sebuah kedudukan yang mengantarkan beliau pada derajat dengan limpahan kenikmatan. Ditampakkan perkara-perkara gaib yang tidak diketahu manusia selain beliau. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى}

“Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” [Quran An-Najm: 18].

Apa saja hal-hal gaib dan tanda-tanda kebesaran Allah yang beliau saksikan. Berikut penjelasannya.

Pertama: Melihat Jibril dengan Wujud Aslinya

Penampakan Jibril ‘alaihissalam dengan wujud aslinya adalah salah satu dari tanda-tanda besar kekuasaan Allah. Rasulullah menyaksikan hal itu. Di malam itu. Di perjalanan yang suci itu. Di saat isra’ dan mi’raj.

Biasanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu Jibril dalam wujud manusia. Ia sering datang dalam wujud Dihyah al-Kalbi radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّهُ لَجِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ نَزَلَ فِي صُورَةِ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ

“Sesungguhnya dia itu Jibril. Ia turun dengan tampilan Dihyah al-Kalbi.” (HR. An-Nasai dalam Kitab al-Iman wa Syara’ihi, Shifatul Iman wal Islam (11722) dishahihkan al-Albani).

Kedatangan Jibril dengan wujud manusia, apalagi dalam tampilan sahabat Nabi, adalah cara Allah dalam menjaga kondisi batin Nabi. Karena manusia akan merasa nyaman dengan manusia. Efek psikis yang ditimbulkan saat berinteraksi dengan manusa, tentu akan berbeda dengan interaksi dengan malaikat. Apalagi dengan wujud asli mereka.

Tapi di lain sisi, Allah hendak memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang tak pernah kita dengar pernah terjadi pada keturunan Adam yang lainnya. Yaitu melihat Jibril ‘alaihissalam dengan wujud aslinya.

Apa yang beliau lihat kemudian dikabarkan kepada kita. Tentu hal ini menjadi ujian. Apakah kita akan membenarkan keajaiban yang beliau sampaikan. Atau malah menolaknya. Sekaligus juga ujian keimanan tentang ke-Maha Mampuan dan ke-Maha Kuasaan Allah dalam menciptakan makhluk-Nya.

Terdapat sebuah riwayat dari Muslim tentang penjelasan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha. Dari Masruq, ia bertanya pada Aisyah:

فَأَيْنَ قَوْلُهُ؟ {ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (8) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (9) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى} [النجم: 8 -10]، قَالَتْ: “إِنَّمَا ذَاكَ جِبْرِيلُ عليه السلام كَانَ يَأْتِيهِ فِي صُورَةِ الرِّجَالِ، وَإِنَّهُ أَتَاهُ فِي هَذِهِ الْمَرَّةِ فِي صُورَتِهِ الَّتِي هِيَ صُورَتُهُ فَسَدَّ أُفُقَ السَّمَاءِ

“Bagaimana dengan firman Allah: ‘Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.’ [Quran An-Najm: 10].

Aisyah menjawab, ‘Sesungguhnya yang dimaksud adalah Jibril ‘alaihissalam. Biasanya ia datang menemui Nabi dalam sosok seorang laki-laki. Tapi pada kesempatan itu, ia menemuinya dengan wujud aslinya yang menutupi langit’.” (HR. Muslim dalam Kitabul Iman, 177).

Pertemuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Jibril dalam wujud aslinya untuk kali kedua terjadi di sisi Sidrataul Muntaha. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Mas’ud dengan sanad yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأَيْتُ جِبْرِيلَ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، عَلَيْهِ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ، يُنْتَثَرُ مِنْ رِيشِهِ التَّهَاوِيلُ: الدُّرُّ وَالْيَاقُوتُ

“Aku melihat Jibril di sisi Sidratul Muntaha. Ia memiliki 600 sayap. Dari bulu sayapnya bertaburan permata dan batu-batu mulia.” (HR. Ahmad 3915 dan selainnya).

Kedua: Melihat Baitul Ma’mur

Dalam perjalanan isra’ mi’raj ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau lihat bapak para nabi itu tengah bersandar di Baitul Ma’mur. Terjadilah dialog antara kedua rasul. Sebagaimana yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Namun, ada poin penting lainnya dalam kejadian tersebut yang belum kita bahas. Yaitu tentang Baitul Ma’mur. Apa itu Baitul Ma’mur?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ رُفِعَ لِي البَيْتُ المَعْمُورُ”. وفي رواية مسلم: “ثُمَّ رُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا مِنْهُ لَمْ يَعُودُوا فِيهِ آخِرُ مَا عَلَيْهِمْ

“Kemudian aku dinaikkan menuju Baitul Ma’mur.” Dalam riwayat lain, “Kemudian ditampakkan padaku Baitul Ma’mur. Aku bertanya, ‘Apa ini Jibril?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Baitul Ma’mur yang setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat. Jika mereka telah memasukinya, mereka tak akan kembali. Itulah kali pertama dan untuk terakhir mereka masuk ke dalamnya’.”

Dalam riwayat an-Nasai terdapat keterangan tambahan:

إِذَا خَرَجُوا مِنْهُ لاَ يَعُودُونَ إِلَيْهِ أَبَدًا

“Kalau mereka telah keluar dari Baitul Ma’mur, mereka tak akan kembali lagi selama-lamanya.” (HR. an-Nasai dalam Kitab at-Tafsir Surat ath-Thur (11530) dari Anas radhiallahu ‘anhu).

Malaikat hanya sakali seumur hidup mereka memasuki Baitul Ma’mur. Teringat akan kewajiban yang Allah berikan kepada kita, wajib ke Baitullah al-Haram seumur hidup satu kali. Hanya saja bedanya, kita bisa dan diizinkan untuk melakukannya lebih dari satu kali.

Merenungkan hadits ini menimbulkan rasa khusyuk dan tunduk kepada Allah Ta’ala. Sejak Baitul Ma’mur diciptakan, setiap hari 70.000 malaikat memasukinya. Dan tidak mengulanginya. Alangkah banyaknya jumlah malaikat-malaikat yang mereka itu sangat taat dan tunduk kepada Allah. Dan kita juga semakin memahami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لاَ تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلاَّ وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلهِ .

“Sesungguhnya aku melihat apa yang tak kalian lihat. Aku mendengar apa yang tak kalian dengar. Langit itu merintih. Dan sudah sewajarnya ia merintih. Tidak ada tempat tersisa empat jari pun kecuali ada malaikat yang meletakkan dahinya sujud kepada Allah.” (HR. at-Turmudzi dalam Kitab az-Zuhd 2312 dan selainnya).

Saking banyaknya jumlah malaikat yang memadati langit, langit pun layak untuk merintih.

Jadi, beliau melihat Baitul Ma’mur sebanyak dua kali. Saat perjumpaan dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Saat itu, beliau hanya bertanya tentang Nabi Ibrahim. Karena Nabi Ibrahimlah yang jadi inti pertemuan kali itu. Kemudian saat naik ke Sidraul Muntaha, disitulah beliau melihat Baitul Ma’mur dengan lebih jelas.

Lalu seperti apa bentuk Baitul Ma’mur itu?

Baitul Ma’mur adalah sesuatu yang gaib. Kita tidak bisa mengetahui dengan cara rekaan dan khayalan. Satu-satunya cara untuk mengetahui seperti apa Baitul Ma’mur itu adalah melalui wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالطُّورِ (1) وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ (2) فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ (3) وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ (4) وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ (5) وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ (6) إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ}

“Demi bukit, dan Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitul Ma’mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi.” [Quran Ath-Thur: 1-7].

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan menyebut Baitul Ma’mur. Sumpah Allah dengan menggunakan makhluknya menunjukkan bahwa makhluk itu besar dan agung.

Khamr, Susu, dan Madu

Saat di Baitul Maqdis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihidangkan susu dan khamr. Kemudian beliau memilih susu. Di langit ketujuh, beliau kembali mendapat jamuan demikian. Hanya saja bedanya, saat di langit tidak disebutkan beliau mengalami haus seperti ketika di dunia. Jadi jamuan ini seakan pemuliaan dan sambutan setelah beliau menyaksikan banyak hal yang menakjubkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ أُتِيتُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ عَسَلٍ، فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ: هِيَ الفِطْرَةُ الَّتِي أَنْتَ عَلَيْهَا وَأُمَّتُكَ

“Setelah itu aku diberi wadah yang berisi khamr, susu, dan madu. Aku mengambil wadah yang berisi susu. Jibril berkata, ‘Itu adalah fitrah, yang engkau dan umatmu berada di atasnya.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, Bab al-Mi’raj, 3674).

Hal ini menunjukkan pujian untuk Nabi dan umatnya. Jibril mengabarkan bahwa umat ini berada di atas fitrah yang bersih. Hanya saja manusia terkadang mengotori sendiri sesuatu yang bersih itu.

Dalam perjalanan ini pula beliau melihat Sidratul Muntaha. Sebagaimana yang telah kita bahas. Dan sungai-sungai surga, yang insyaallah akan kita bahas di artikel selanjutnya.

Sumber:
https://islamstory.com/ar/artical/3406664/الايات-الكبرى-في-المعراج

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel http://www.KisahMuslim.com

http://kisahmuslim.com/6087-perjalanan-isra-miraj-menyaksikan-tanda-kebesaran-allah-di-langit-ketujuh.html

Advertisements

Jenis file yang sering digunakan pada dunia komputer dan smartphone adalah Portable Document Format (PDF). PDF menjadi jamak digunakan karena keamanan data yang cukup baik. File dalam format PDF tidak mudah dilakukan pengeditan baik isi maupun jumlah halaman. Continue Reading »


pendidikan-cinta-untuk-anak

Buku Islam Pendidikan Cinta Untuk Anak-Sebuah buku yang mengungkap detail cinta yang sebenarnya, bukan cinta palsu atau sesaat layaknya cinta lokasi. Buku ini benar-benar mengajak Anda menuju ke taman Surga. Bermula dari cinta dan berakhir dengan cinta pula. Bagaimanakah merealisasikan cinta yang benar terhadap Allah dan Rasul-Nya? Dan bagaimana sikap yang tepat dalam memuliakan Islam? Buku ini jawabannya … Continue Reading »


perjalanan-para-ulama-menuntut-ilmu

Buku Islam Perjalanan Para Ulama Menuntut Ilmu-Ilmu syar’i didapat dengan mencurahkan segenap kemampuan unruk meraihnya, tidak hanya bersantai saja (duduk manis semata). Lihatlah para ulama yang menorehkan tinta emas, perjuangan mereka sangat pantas untuk diabadikan! Sudah menjadi perkara yang maklum bagi mereka, bila harus menghabiskan waktunya berhari-hari dalam rangka rihlah mencari satu hadits. Ini bukan dongeng, tapi nyata!

Lihatlah Mereka …

Lihatah … Imam Baqi bin Makhlad yang melakukan rihlah dua kali; dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun berturut-turut . (Tadzkiratul Huffadz, 2/630) Continue Reading »


sembuh-dengan-al-quran

Buku Islam Sembuh Dengan Al-qur’an-Dewasa ini telah banyak didapati rumah sakit-rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan, namun tidak banyak yang melirik pengobatan dengan al-Qur’an. Mayoritasnya beranggapan bahwa pengobatan tersebut lebih tepat jika disebut dengan pengobatan alternatif. Mengapa demikian? Tidak lain dan tidak bukan, karena jauhnya umat Islam dari agamanya sendiri. Wallahul Musta’an. Continue Reading »


Kalau ada orang yang “bodoh”, seharusnya diajari atau dibenarkan. Bukan malah dijadikan bahan tertawaan atau olok-olok saja. Jika tidak demikian, maka apa bedanya kita sama orang bodoh yang kita olok-olok tersebut?

Continue Reading »


Oleh karenanya, seringkali kita melihat cinta suami kepada isteri atau sebaliknya justru semakin besar dan memuncak, ketika keduanya membangun rumah tangganya dengan pondasi agama.

Oleh karena itulah, Nabi shollallohu alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mementingkan faktor ini, yaitu dalam sabda beliau:

فاظفر بذات الدين تربت يداك

Dapatkanlah isteri yg memiliki agama (yang baik); niscaya kamu akan beruntung” (Muttafaqun alaih; Shahih Bukhori: 5090, Shahih Muslim: 1466). Continue Reading »


1Ketika sedang ngobrol tentang buku Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya langsung sampaikan, ini buku mengantarku menjadi senang ngaji. Dia balik sampaikan, ternyata sama! Dia senang ngaji juga karena buku ini
Continue Reading »


Untuk mewujudkan keinginan, manusia menempuh beraneka ragam cara, sebagian dari mereka ada yang menempuh metode yang dibenarkan agama, dan adapula dari mereka yang rela menempuh metode apapun untuk mewujudkannya.

Diantara metode haram yang tidak jarang ditempuh adalah dengan memohon bantuan kepada makhluk lain, yaitu jin, baik itu melalui perantaraan sihir, perdukunan atau tukang ramal. Mereka berkeyakinan bahwa dengan cara ini, keinginannya dapat segera tercapai. Padahal dikaji dari berbagai dalil Al Qur’an dan Hadits, serta fenomena yang terjadi di masyarakat, maka akan kita dapatkan akibat-akibat yang sangat mengenaskan bagi masadepan akhirat kita, bahwa justru manusialah pihak yang paling merugi dari hubungan ini, pertama keimanan akan runtuh

Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa salaam menegaskan:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ – رواه أحمد وابن ماجة

“Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia mempercayai perkataan mereka, maka ia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada Muhammad sholallohu ‘alaihi wa salaam.” (riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

Ini adalah balasan orang yang percaya kepada dukun atau tukang ramal.
Kedua, ibadah sholat kita tidak diterima oleh Allah, Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa salaam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً – رواه مسلم

“Barang siapa yang mendatangi peramal, lalu ia bertanya kepa danya tentang suatu hal,, niscaya tidak akan diterima ibadah sholatnya selama empat puluh hari.” (riwayat Muslim)

Ini adalah balasan orang yang bertanya kepada dukun atau tukang ramal, sedangkan ia tidak mempercainya.

Jadi… Dukun, kenapa iya??
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Sumber :
👥 Facebook Page :
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel :
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam


Inilah Ulama Berpenghasilan Milyaran

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Berpenghasilan besar, belum tentu mendapat kewajiban zakat. Karena zakat hanya dibebankan untuk orang yang memiliki harta mengendap satu nishab selama setahun. Meskipun seseorang memiliki harta di atas satu nishab, namun habis sebelum satu tahun, dia tidak wajib zakat.

Kita akan simak, biografi salah satu ulama besar di masa silam, yang Allah berikan kekayaan melimpah, namun beliau tidak pernah berzakat. Karena hartanya habis sebelum genap setahun.

Beliau adalah al-Laits bin Sa’d rahimahullah.

Siapa al-Laits bin Sa’d

al-Laits bin Sa’d bin Abdurrahman. Kunyahnya Abul Harits. Seorang ulama besar di Mesir yang ahli di bidang fiqh dan hadis. Lahir tahun 94 Hijriyah. Beliau ulama tsiqqah (terpercaya) yang terkenal sangat dermawan.

Penghasilan al-Laits

As-Shafadi menceritakan,

وكان – أي الليث – من الكرماء الأجواد. ويقال: إن دخله كان كل سنة خمسة آلاف دينار، وكان يفرقها في الصلات وغيرها

Al-Laits termasuk ulama yang sangat dermawan. Diceritakan bahwa penghasilan al-Laits setiap tahun mencapai 5000 dinar. Dan beliau suka membagi-bagikannya ketika shalat dan kegiatan lainnya.

Kita bisa hitung, 5000 dinar itu berapa rupiah?

5000 x 4,25 gr emas, ketemu 21.250 gr emas. 21, 25 kg emas. Subhanallah…

Sekarang berapa kalo dirupiahkan.

Anggap 1 gr Rp 500.000, berarti 21.250 x 500.000, ketemunya 10.625.000.000… 10 M + 625 juta.

Itu kalo dirata-rata sebulannya berapa?

Kita bagi 12, ketemu 885.416.666,67

Subhanallah… penghasilan beliau hampir 1 M sebulan. Continue Reading »

Next Page »



%d bloggers like this: